KRISIS politik di dalam negeri Venezuela dikhawatirkan akan menjadi masalah global.
Ketika unjuk rasa jalanan yang menuntut pengunduran diri Presiden Nicolas Maduro diwarnai kekerasan, pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan diri sebagai presiden sementara pada hari Rabu (23/01).
Dia langsung mendapatkan dukungan Amerika Serikat (AS), Kanada dan sejumlah negara tetangga kuat seperti Brasil, Kolombia dan Argentina.
Uni Eropa sementara itu mendesak dilakukannya pemilihan umum baru dan menyatakan dukungan kepada Dewan Nasional yang dipimpin Guiado.
Rusia dan China dukung Maduro
Tetapi Rusia dan China adalah negara besar di antara sekelompok negara kecil yang tetap mendukung Presiden Maduro.
Pada Kamis (24/1), Moskow memperingatkan bahwa pernyataan Guiado "jelas mengarah pada ketidakpastian hukum dan banjir darah".
Kementerian Luar Negeri menyatakan, "Kami menentang aksi seperti ini yang diwarnai bencana."
Sementara itu, juga pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa China menentang "campur tangan" asing apa pun di Venezuela.
"China mendukung usaha Venezuela untuk melindungi kedaulatan nasional, kemerdekaan dan stabilitas," katanya.
"China juga selalu mendukung prinsip tidak campur tangan negara-negara lain terkait dengan 'masalah dalam negeri dan menentang campur tangan dari pihak luar di Venezuela."
Turki, Iran, Meksiko, Kuba dan negara-negara lainnya juga menyatakan dukungan terhadap Maduro.
Menurut juru bicara presiden Turki, Ibrahim Kalin, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menunjukkan dukungannya dengan mengatakan, "Saudara Maduro, tetaplah teguh, kami bersamamu."
Juru bicara tersebut berbagi hashtag #WeAreMADURO.
Putus hubungan dengan AS
Tetapi tekanan dunia kemungkinan tidak akan menghilang begitu saja. Pejabat AS dan Venezuela telah terlibat dalam perang kata-kata.
Tidak lama setelah pengakuan Donald Trump terhadap Guiado sebagai presiden sementara, Maduro mengatakan dia memutus hubungan diplomatik dengan AS.
Dia mengatakan "seluruh staf diplomatik dan konsulat Amerika Serikat di Venezuela" diberikan waktu 72 jam untuk meninggalkan negara itu.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, kemudian mengatakan Amerika tidak akan melakukan hubungan diplomatik lewat pemerintah Maduro tetapi melalui Guaido.
"Amerika Serikat tidak memandang mantan Presiden Nicolas Maduro memiliki kewenangan hukum untuk memutus hubungan dengan AS atau menyatakan diplomat kami persona non grata," demikian isi pernyataannya.
'Semua pilihan tersedia'
Presiden Trump pertama kali menyebutkan "opsi militer" terkait dengan Venezuela pada tahun 2017 dan dia mengatakannya kembali pada hari Rabu dalam pernyataan kepada para wartawan di Gedung Putih.
"Kami tidak mempertimbangkan apa pun tetapi semua opsi tersedia," kata Trump. "Semua pilihan, selalu, semua pilihan tersedia."
Media AS melaporkan Trump dapat menerapkan sanksi minyak terhadap Venezuela, menghantam sumber utama penghasilan negara dan menambah jumlah pejabat Venezuela yang dikenai sanksi.
Tetapi ini juga akan mempengaruhi kemampuan Venezuela dalam membayar kembali miliaran dolar pinjaman dari Rusia dan China.
Bulan lalu, di Moskow, Maduro dan rekannya di Rusia, Vladimir Putin, menyepakati persetujuan ekspor gandum Rusia ke Venezuela, di samping kontrak US$6 miliar atau Rp84 triliun sektor minyak dan tambang Venezuela.
Saat masih kaya minyak, Venezuela adalah pembeli utama peralatan militer Rusia, mulai dari jet tempur, tank sampai ke peluncur roket.