Pemimpin Redaksi Rappler Maria Ressa Ditangkap Pemerintah Filipina

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 14 Februari 2019 04:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 14 18 2017675 pemimpin-redaksi-rappler-maria-ressa-ditangkap-pemerintah-filipina-KWSOAnhBMt.jpg Maria Ressa, Pemimpin Redaksi Rappler (Foto: BBC/Reuters)

Pada Desember, media ini juga melaporkan pengakuan Duterte bahwa dirinya melecehkan seksual seorang pembantu pembantu rumah tangga. Namun, Presiden menegaskan laporan situs tersebut adalah "berita palsu" dan melarang wartawan Rappler meliput kegiatan resminya.

Tahun lalu, negara mencabut izin situs, tetapi Duterte menyangkal bahwa tuntutan terhadap Rappler dan Ressa bermotif politik.

Siapa Maria Ressa? 

Ressa adalah wartawan veteran Filipina yang sebelum mendirikan Rappler, menghabiskan karirnya dengan CNN - pertama sebagai kepala biro di Manila dan kemudian di Jakarta. Dia juga merupakan wartawan investigatif utama media AS tersebut terkait dengan terorisme di Asia Tenggara.

Dia memenangkan sejumlah penghargaan internasional karena liputannya dan dipilih menjadi Time Magazine Person of the Year tahun 2018 karena usahanya mempertanyakan tanggung jawab kekuasaan di lingkungan yang semakin memusuhinya.

Apa artinya bagi jurnalisme Filipina?

Pendukung kebebasan pers memandang ini sebagai usaha untuk menggertak organisasi berita yang kritis, agar menjadi bungkam. National Union of Journalists Filipina, sebagai contohnya, segera mengutuknya.

"Penangkapan ... Ressa berdasarkan tuntutan fitnah-siber yang jelas-jelas direkayasa adalah tindakan persekusi tanpa malu dari sebuah pemerintahan penggertak," kata serikat tersebut kepada Reuters.

"Pemerintah ... sekarang sudah terbukti akan melakukan segalanya untuk membungkam media yang kritis."

Sementara itu, wartawan Rappler terus mengirim tweet terkait penangkapan Ressa dengan hashtag #DefendPressFreedom.

Para pengamat mengatakan, kebebasan pers di Filipina - yang pernah menjadi yang terkuat di Asia - menjadi lemah di bawah kepresidenan Duterte.

Sejak tahun 1986, 176 wartawan dibunuh di negara itu, sehingga menjadikan Filipina sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi wartawan di dunia. Tahun 2016, presiden dikecam karena mengatakan sebagian dari wartawan tersebut memang layak mati.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini