BEKASI - Indonesia dengan beragam kebudayaannya, merupakan cerminan sebuah bangsa. Budaya itulah yang menjadi jati diri sebuah bangsa. Bangsa tanpa budaya, tentu tidak bisa disebut sebuah bangsa. Bahkan Indonesia bisa tersohor hingga ke mancanegara, dikarenakan memiliki kebudayaan yang dinobatkan sebagai yang terbanyak di dunia.
Pelestarian budaya sejatinya merupakan tanggung jawab bangsa. Namun sayang, di era modernisasi saat ini, di mana perkembangan teknologi yang pesat serta pengaruh kebudayaan bangsa lain, berdampak pada tergerusnya budaya yang ada di tiap-tiap daerah. Indonesia saat ini seolah dalam kondisi krisis budaya. Ironisnya, banyak masyarakat yang seakan tidak peduli dan membiarkan kondisi ini terus berlanjut.
(Baca Juga: Hikayat Palang Pintu, Tradisi Betawi yang Sarat Makna)
Dari sekian banyak budaya yang tergerus, palang pintu menjadi salah satu budaya yang terbilang masih terbilang eksis meski tak lagi sesering dulu. Masih ada sejumlah komunitas yang dengan tulus berupaya melestarikan budaya asli Betawi ini.
Tokoh Betawi senior dari Jawara Betawi di Kampung Gabus, Babeh HK Damin Sada mengatakan, palang pintu diperkirakan sudah berusia lebih dari ratusan tahun. Tradisi yang biasa ditemui di pernikahan adat Betawi ini, kini memang sudah jarang ditemui. Hanya segelintir kalangan yang masih setia menyewa jasa palang pintu, sekaligus untuk hiburan warga setempat.
Menurut cerita yang tersebar di kalangan masyarakat Betawi, tradisi palang pintu bermula dari seorang tuan tanah yang memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan tuan tanah tersebut memiliki seorang kekasih yang hendak melamarnya. Sang tuan tanah pun tak langsung menerima pinangan kekasih putrinya. Ia mengajukan sebuah syarat yang harus dilalui agar pinangan kekasih putrinya diterima.