JAKARTA - Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dinilai terjebak dalam berbagai narasi besarnya dalam debat ronde kedua Pilpres 2019. Walhasil, Prabowo tidak dapat menjabarkan secara detail gagasannya sendiri.
Pengamat politik dari Habibie Center, Bawono Kumoro menyatakan Prabowo tidak memberikan penjelasan secara detail terkait berbagai gagasan yang diutarakannya, seperti saat berulang kali menyinggung Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
(Baca Juga: Tampil dengan Leluasa Saat Debat, Jokowi Unggul Jauh dari Prabowo)
"(Pasal 33 UUD 1945) itu narasi besar, tapi bagaimana mendetailkan itu. Kita sepakat dengan pasal tersebut, tapi operasionalnya bagaimana. Itu tidak detail," ujar Bawono saat dihubungi, Senin (18/2/2019).
Bawono menuturkan Prabowo terlihat tampil bingung dalam debat semalam. Berbagai narasi besar yang diutarakan Prabowo, kata dia, banyak yang tidak tepat untuk diterapkan di era saat ini.
Bawono menyebut kebingungan Prabowo dengan narasi besar tersebut membuatnya tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan oleh capres nomor urut 01 Joko Widodo secara detil.
"Misalnya istilah pendekatan kerakyatan seperti narasi Soekarno, lalu narasi besar berdiri di atas kaki sendiri. Itu cocok di masa perjuangan, narasi untuk himpun solidaritas bangsa. Di era sekarang, kita perlu orang tahu detil," ujarnya.
Bawono menilai kondisi seperti semalam akan berbeda bila Prabowo didampingi oleh cawapres Sandiaga Uno.
Sementara itu, Mantan Deputi Lingkungan WALHI, Ridha Saleh menyatakan debat capres kedua memberi banyak pengetahuan bagi publik tentang kualitas calon pemimpin Indonesia, terutama dalam isu sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Terkait dua tema itu, ia menilai gagasan yang disampaikan Jokowi lebih berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sebab, ia berkata Jokowi mengedepankan keadilan sekaligus mengimplementasikan gagasannya secara nyata.
(Baca Juga: Jokowi Dituduh Pakai Earpiece, TKN Sebut Kubu Prabowo Lakukan Pengalihan Isu)
Sementara Prabowo, ia melihat tidak mampu memberi argumentasi yang detil atas kedua tema tersebut. Bahkan, ia menilai Prabowo merupakan bagian dari masalah ketimpangan aset karena mengaku memiliki ratusan ribu hektare lahan di Aceh dan Kalimantan Timur.
“Prabowo tidak dapat memberikan argumentasi yang memadai tentang soal yang diprioritaskan dalam penyelesaikan konflik tanah dan sumberdaya alam. Bahkan Prabowo justru menjadi masalah bagi ketimpangan penguasaan tanah di Kaltim dan Aceh,” tuturnya.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.