Buya Syafii Ma'arif Nilai Banyak Pihak yang Tuna-Adab Menjelang Pemilu

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 19:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 28 605 2024166 buya-syafii-ma-arif-nilai-banyak-pihak-yang-tuna-adab-menjelang-pemilu-SCEPA0Y0wg.jpg Buya Syafii Maarif saat diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (Foto: Ist)

JAKARTA - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma'arif atau akrab disapa Buya Syafii buka suara terkait suasana dan kondisi menjelang Pemilu 2019 yang menurutnya membuat anak bangsa 'tuna-adab' hingga suka berbohong. Dia juga heran pemilu kali ini banyak menyeret nama Tuhan.

"Para politisi lebih pikirkan dirinya sebagai caleg, Saya pikir yang masif itu sebenarnya ujaran kebencian dan fitnah, tuduh-menuduh. Dan itu menyeret Tuhan. Masa Tuhan diajak pemilu? Kan nggak benar. Itu udah nggak benar. Dan itu terjadi," kata Buya Syafii di Aula Panti Trisula Perwari, Jalan Menteng Raya No 35, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).

Buya Syafi'i juga mengajak semua pihak untuk menjadi orang yang "waras" dalam menghadapi Pemilu. menurutnya, Indonesia bisa menjadi negara besar jika mampu mengelola perbedaan yang ada.

 Tokoh yang hadir dari kiri ke kanan: Ust. Andi Yusuf perwakilan dari Islam; Irmanjaya, inisiator ABI; Pdt Martin L Sinaga dari perwakilan Kristen; Uung Lunggana perwakilan Konghucu; Ela Trikora, inisiator ABI; Buya Syafei Ma'arif; Ngatawi al Zastrouw, Inisiator ABI; Pdt Irfan dari perwakilan umat Kristen.

"Kalau Indonesia mau bertahan, kalau ingin jadi negara besar, Indonesia akan bertahan sehari sebelum kiamat dengan anak muda yang waras, jernih, dan bertanggung jawab. Sebab, Mohammad Hatta mengatakan demokratis hanya bisa berjalan dengan tiga cara, tanggung jawab, rasa memiliki, dan lapang dada. Dikelola dengan baik. Jangan ada permusuhan," ungkapnya lagi.

Sementara itu, Inisiator Gerakan Ikrar Kebangsaan dari Aliansi Anak Bangsa Untuk Indonesia (ABI) Ngatawi Al Zastrouw mengungkapkan, keberagaman merupakan tradisi bangsa Indonesia. Menurutnya, keberagaman tersebut dapat membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila.

“Mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara NKRI yang berdasarkan Pancasila, hakekatnya merupakan perwujudan dari spirit mengamalkan ajaran dan nilai-nilai agama,” ucapnya.

Ngatawi juga menyinggung soal maraknya hoaks di Indonesia. Ia menilai fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian bertujuan untuk menghancurkan rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.

“Ini bisa mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ini dibiarkan maka akan mengancam keberagaman dan mengikis semangat kebangsaan bangsa Indonesia," ujarnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini