CARACAS - Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido meminta pemerintah dan parlemen menetapkan status darurat terkait pemadaman massal yang berdampak jatuhnya korban jiwa.
Setidaknya 15 pasien ginjal dilaporkan meninggal sejak pemadaman listrik massal yang sudah terjadi pada Kamis pekan lalu.
"Kita harus segera menangani bencana ini. Kita tidak bisa lari," kata Guaido mengutip AFP, Senin (11/30219).

Guadio merupakan pemimpin Majelis Nasional yang berusia 35 tahun. Ia mengklaim dirinya sebagai presiden sementara Venezuela, yang memicu perebutan kekuasaan negara yang kaya dengan minyak itu.
Pemadaman massal juga menyulitkan masuknya bantuan internasional yang dikrim melalui Brasil dan Kolombia.

Bulan lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menggunakan militer untuk memblokir upaya oposisi untuk membawa lebih dari 250 ton pasokan dari Kolombia dan Brasil.
Baca: Pengakuan Para Serdadu Venezuela yang Membelot dari Maduro
Baca: Ditolak Masuk, AS Cari Cara Baru untuk Kirim Bantuan ke Venezuela
Maduro dengan tegas menolak mundur dari posisinya meski ekonomi negara itu telah hancur.
Tuding Ada Sabotase
Maduro menuding ada sabotase di bendungan pembangkit tenaga air yang menjadi sumber listrik negara.
Media lokal dan pengguna Twitter melaporkan bahwa pemadaman tersebut berdampak pada ibu kota Caracas dan 15 dari 23 negara bagian.
Para kritikus berpendapat bahwa korupsi dan kurangnya investasi menyebabkan jaringan listrik negara tidak berfungsi, namun Maduro menuding kejadian tersebut sengaja dibuat oleh musuh-musuh poltik.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.