Seperti halnya, kisah pertemuan Khidir dan Musa. Di mana juga terjadi pertemuan dua lautan yang menyatu. Jika dicari jawaban secara ilmiah pasti ada jawabannya.
"Namun, di balik keilmiahan itu tersimpan sebuah tanda-tanda bagi kehidupan spiritual manusia. Artinya, di atas fenomena alam pasti ada spiritualnya. Batas kemampuan ilmiah hanya sebatas yang nampak mata, di luar itu mau disikapi dengan apa kalau tidak spiritual," ungkap pria yang konsen di bidang budaya dan spiritual ini.
Oleh karena itu, setiap fenomena harus disikapi dengan baik dan penuh syukur. Melihat fenomena lautan yang terjadi di selat Madura, hakikatnya itu tetap menyatu dalam satu lautan yang luas meskipun dalam pandangan berbeda.
Misalnya, dalam waktu dekat masyarakat akan menghadapi kondisi pemilu. Tentunya akan banyak perbedaan pendapat dan pandangan yang berbeda. Namun, sejatinya yang berbeda itu tetaplah satu yakni Indonesia.
"Artinya apa, kita harus bijak memaknai sesuatu. Jika kita tidak pandai bersyukur dengan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta, tunggulah kehancurannya. Rawatlah budaya bangsa yang telah diwariskan oleh leluhur, maka NKRI akan selamanya terjaga," paparnya.