"Dari era Presiden (ke-2 RI) Soeharto sampai saat ini masalah terbesar bangsa adalah kemiskinan," kata wanita pengguna kaki palsu itu. Keluarga saya juga saya miskin, dan saya bisa keluar dari kemiskinan," ucap Sapto Yuli.
Menurutnya, upaya keluar dari kemiskinan dimulai dengan berkarya, mendesain hijab dan kerudung, serta memproduksinya. Ia memenangkan banyak order pengadaan hijab, kerudung, t-shirt dan jaket dari berbagai organisasi.
"Penyandang difabel miskin itu pasti terpinggirkan, tapi jika punya semangat dan kemauan berkarya siapa pun bisa keluar dari kemiskinan," katanya.
Sapto Yuli memimpikan difabel di Indonesia memperlihatkan karya di bidang apa saja. Di sisi lain, pemerintah lebih peduli pada kaum difabel.
"Negeri kita sudah mulai ramah kepada kaum difabel, terutama di kota besar," ujar wanita berusia 46 tahun itu. "Namun dibanding negara lain, Indonesia masih tertinggal."