"Masih enakan naik motor. Aksesnya belum bisa ke mana-kemana. Harus transit-transit. Nanti mesti sambung lagi naik ojol. Ongkos sehari bisa Rp50.000 karena harus nyambung dengan transportasi lain," kata Putra, warga Ciledug.
Meski mendapat penolakan dari pengendara motor, ternyata MRT cukup menarik minat pengguna kendaraan roda empat. Sebab, mereka anggap ketimbang bermacet-macetan lebih baik berdesak-desakan di dalam moda transportasi berbasis rel tersebut.
"Saya sih sekarang lebih milih naik MRT kalau untuk ke kantor di daerah Sudirman," kata Eka Prasetya warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
"Kalau naik mobil harus macet-macetan pas ke kantor. Tapi saya harap Pemprov DKI menyediakan lebih Transjakarta yang terintegrasi dengan stasiun MRT," ujar Eggy warga Blok M.