Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jokowi Disebut Jalankan Falsafah Sam Ratulangi

Fahreza Rizky , Jurnalis-Rabu, 10 April 2019 |00:07 WIB
Jokowi Disebut Jalankan Falsafah Sam Ratulangi
A
A
A

JAKARTA - Karakter kepemimpinan calon presiden (capres) 01, Joko Widodo (Jokowi) ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan pesaingnya Prabowo Subianto. Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Amin, Michael Umbas.

Michael Umbas mengatakan, Jokowi selalu tampil penuh optimisme, menyatu dengan rakyat, menginspirasi dan visioner serta apa adanya. Sementara Prabowo cenderung menghadirkan pesimisme, ketakutan, emosional dan bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata tak pantas.

"Karakter kepemimpinan Jokowi terbentuk dari nafas dan jiwa arus bawah sebagaimana Jokowi sejatinya berasal. Ada falsafah terkenal dari Pahlawan Nasional asal Minahasa GSJJ Sam Ratulangi yaitu “Si Tou Timou Tumou Tou” atau manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Banyak makna yang terkandung dari filosofi itu. Jokowi menjalankan falsafah Sam Ratulangi dengan menghadirkan program dan kebijakan yang mengangkat derajat manusia dan rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan asal-usul dan identitas," kata Michael Umbas, Selasa (9/4/2019).

(Baca Juga: Kang Emil: Jokowi-Ma'ruf Sudah Unggul 4 Persen di Jabar)

Dia menjelaskan, meskipun karakter Minahasa sebagaimana disebut Prabowo mengalir dalam dirinya melalui darah ibunya, tapi sesungguhnya falsafah Ratulangi yang mengusung konsep kemanusiaan yang tinggi tidak tampak dari Prabowo. Menurutnya, di Minahasa tidak ada budaya pemimpin marah-marah, membentak dan merendahkan yang lain apalagi rakyatnya sendiri.

"Nilai-nilai kultur keminahasaan yang meskipun egaliter tapi tetap sarat akan penghargaan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak ada dalam sejarah Minahasa pemimpin gebrak-gebrak meja lalu membentak dan menakut-nakuti,” kata Umbas yang juga putra Minahasa itu.

Umbas menambahkan, rakyat tentu mencermati setiap tampilan kampanye dan orasi dari Prabowo. Perkataan kasar hanya akan menjatuhkan kredibilitas pemimpin di mata rakyatnya. Belum lama ini, Prabowo menyebut Ibu Pertiwi sedang diperkosa. Tak hanya itu, muncul diksi “bajingan” dari mulut Prabowo ketika kampanye di Stadion Kridosono, Yogyakarta, kemarin.

Sedangkan Jokowi, kata Umbas, justru selalu menyampaikan bahwa demokrasi semestinya diisi kegembiraan. Bukan justru menakuti masyarakat atau menghadirkan narasi-narasi pesimisme.

“Jadi pesta demokrasi adalah kegembiraan, jangan sampai malah ada yang menakut-nakuti, jangan sampai ada yang pesimis, jangan sampai ada yang suka marah-marah,” kata Jokowi. (aky)

(Amril Amarullah (Okezone))

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement