PADANG - Afrijon (30) duduk bersandar di kursi plastik warna biru sambil melihat kondisi jilatan api kepada sekira 30 bambu lamang (lemang) yang disandarkan di atas tungku besi, sekali-sekali dia berdiri jika api semakin membesar akan menyapunya dengan sebuah tongkat kayu agar lemang bambu itu tidak terbakar, itulah usaha lemang yang digeluitnya sejak 1982 di Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Jon panggilan akrab Afrijon ini membuka usaha lemang ini bersama 4 orang saudara kandung mereka.
“Ini usaha keluarga saja yang sudah dirintis oleh orang tua, kami ada dua perempuan dan dua laki-laki. Warisan dari orang tua kami teruskan,” tuturnya kepada Okezone.
Kalau hari-hari biasa untuk memasak lemang ini ada 30 sampai 35 batang dengan ukuran 60 sampai 70 meter. Namun menjelang bulan puasa ini dia memasak lebih banyak.
“Menjelang puasa ini kita memasak lemang ada sebanyak 150 batang, dan ini sudah dipesan sebanyak 80 orang, ada yang memasan tiga batang ada juga yang memesan 5 batang. Untuk satu batang ini dijual seharga Rp40 ribu,” ucapnya.
Biasanya ini dipakai untuk manjalang mintuo (mengunjungi mertua) untuk mengikat silaturahmi dengan mertua saat menjelang puasa. “Sehingga permintaan banyak menjelang bulan puasa,” ujarnya.
Untuk membuat lemang ini, Jon sudah menyiapkan bahannya sehari sebelumnya baik itu beras pulut (ketan) merah, pulut putih, pulut hitam.
“Kalau bahannya sudah kita siapkan sehari sebelum memasak, sekitar sore, kemudian untuk memasaknya dimulai sejak pukul 04.00 WIB subuh, ada sekitar 3 jam lamannya memasak,” ujarnya.
Sekira lima meter dari tempat Afrijon ada satu lagi tempa memasak lemang milik One Ad (59), usaha lemang ini lebih senior dari milik Afrijon. One Ad ini sudah tidak ingat lagi tahun berapa dirintis usahanya.
“Sudah tiga turunan kami merintis mulai dari buyut sampai saya sekarang,” tuturnya.
Untuk harga tempat One ini lebih mahal dari milik Afrijon, satu batang lemang ini harganya sekira Rp70 ribu, bahkan pemesannya ada dari Malaysia dan Jawa, terutama saat mereka pulang kampung.
Bahan untuk membuat lemang ini kalau bambu dibeli dari Kabupaten Solok, sementara kalau daun pisang dari Padang Pariaman, kalau beras ketan dan santan kelapa sudah ada di Padang.
“Kalau bambu ini jauh kita beli dari Solok daun pisang juga dari Padang Pariaman, kecuali beras ketan ini dan kelapa dari Padang termasuk barang lainnya,” ucapnya.

Ada empat macam jenis lemang baik yang dimasak Afrijon maupun One Ad. Lemang luo, ini terdiri beras ketan putih yang ditengah-tengahnya diberi gula merah bercampur dengan kelapa yang sudah diparut, lemang pisang bahanya beras ketan putih ditengah-tengah dikasih buah pisang, kemudian lemang hitam ini beras ketan hitam, lemang putih ini ketannya putih dan lemang merah dari ketan merah.
Tradisi malamang ini menurut Afrijon dan One Ad ini secara serentak menjawab dari Padang Pariaman.
“Waktu cerita nenek saya tradisi ini dari Padang Pariaman, saat itu lemang ini hanya dimasak oleh satu kaum (suku) untuk menyambut bulan puasa kemudian menyambut lebaran. Karena sekarang banyak yang sibuk jadi tradisi ini sudah jarang dilakukan makanya orang lebih banyak membeli saja,” terang One.