Tak puas dengan informasi ini Okezone menemuhi seorang tokoh agama Tarekat Syattariyah di Masjid Raya Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang bernama Darmawi (62), dia ini tokoh yang menjadi panutan para pengikut Tarekat Syattariyah.
Tarekat Syattariyah ini merupakan Agama Islam yang disebarkan oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman dan menyebarkan ke Kota Padang dan daerah kabupaten lainnya.
“Tradisi malamang ini kalau di Pariaman masih berjalan termasuk di daerah pinggiran Kota Padang, mereka memasak lemang ini sehari sebelum puasa dan sehari sebelum lebaran. Lemang ini ibaratnya sebagai kue-kue untuk menyambut bulan suci dan merayakan kemenangan,” katanya.
Bulan Sya'ban di daerah Padang Pariaman juga dinamakan dengan bulan lamang. Sebab, dibulan inilah hampir seluruh masyarakat daerah itu melakukan tradisi malamang. Lamang, sebuah makanan yang terbuat dari beras ketan, yang dimasak dengan menggunakan bambu. Tradisi demikian telah berlangsung sejak Syekh Burhanuddin mengembangkan ajaran Islam di daerah tersebut.
Hingga kini, tradisi malamang disamping dibudayakan pada bulan Sya'ban ini, juga terjadi saat bulan maulid, dan saat melakukan kebiasaan saat peringatan peristiwa kematian. Konon kabarnya, sebelum Syekh Burhanuddin datang mengembangkan Islam di Pariaman yang berpusat di Ulakan, masyarakat daerah itu masih memeluk agama nenek moyangnya, Hindu dan Budha. Dengan demikian, persoalan makanan yang dilakukan umat dulu itu tidak ada yang menyaring. Asal ketemu dimakan saja. Nah, Syekh Burhanuddin orang yang telah lama tahu dengan Islam sangat tidak ingin makan sembarangan.
Begitu juga, tata cara pengembangan Islam yang dilakukan Syekh Burhanuddin, banyak menggunakan jalur adat istiadat yang telah berkembang dikampung tersebut. Setiap kali Syekh Burhanuddin bertandang kerumah masyarakat, dia tidak mau memakan makanan yang diletakkan oleh yang punya rumah. Terus menerus hal itu terjadi tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat jamaahnya.
“Syekh Burhanuddin pun menjelaskan, kenapa dia tidak mau makan ? Menurutnya, tempat memasak makanan tersebut masih mengandung najis, perlu disucikan. Saya mau makan, apabila makanan itu dimasak dari alat yang belum tersentuh najis. Maka timbullah inisiatif masyarakat untuk membuat makanan yang dimasak dari bambu tersebut, yang pada akhirnya disebut dengan lamang,” tutur Darmawi cerita yang didapat dari neneknya.
Itu cerita dari banyak pihak, terutama pendapat para ulama yang ada didaerah Padang Pariaman tentang tradisi malamang yang hingga kini masih melekat di tengah masyarakat itu sendiri. Pada bulan Sya'ban seperti ini, boleh dilihat hampir seluruh rumah masyarakat membuat yang namanya lamang disiang hari, dan malamnya berkumpul bersama urang siak (ulama). Para urang siak itu sengaja diundang oleh yang punya rumah, untuk meminta kaji nan sapatah, doa nan sakulimah.
Kini kata Darmawi, kalau hari raya nanti di Masjid Raya Belimbing ini para jamaahnya akan membawa lemang untuk dimakan bersama di dalam masjid setelah shalat Id. “Kalau kesini banyak lemang dan kue-kue kita akan makan bersama setelah shalat Idul Fitri,” katanya.
Damawi menambahkan kini lemang itu tidak hanya sebagai makanan di rumah-rumah dan masji tapi ini juga sudah menjadi tradisi sebagai oleh-oleh ke rumah mertua yang dinamakan manjalang mintuo
Lemang Untuk Manjalang Mintuo
Tradisi manjalang mintuo tujuannya untuk mengeratkan silaturahmi antara menantu dengan keluarga mertuanya. Manjalang mintuo di sini dulunya tidak hanya sekadar pergi bersilaturahmi tapi membawa hantaran berupa makanan khas. Khususnya di Kuranji, Pauh dan Kototangah hantaran yang dibawa berupa lemang, tapai ketan, kue bolu, agar-agar dan pisang.
Manjalang mintuo ini diwajibkan bagi wanita yang baru menikah. Pakaian yang dipakai ke rumah mertua pun tak boleh sembarangan. Minimal baju kurung. Manjalang mintuo biasa jelang Ramadhan, Lebaran dan Hari Raya Idul Adha.
Hantaran dinilai tidak saja dari wujudnya tapi juga dari raso dan pareso. Bagi yang menerima buah tangan ini, pemberian ini juga dinilai sebagai penghargaan terhadap dirinya. “Senang dan merasa dihargai bila menantu manjalang di hari baik bulan baik,” kata Hartini (60) warga Pauh, Kota Padang.
Wadah tempat membawa lemang ini saat pulang tak dibiarkan kosong, biasanya berisi uang atau beras. “Jumlahnya tergantung kemampuan. Kalau orangnya pelit biasanya memberi sekadarnya saja,” ucapnya.
Hartini menambahkan biasanya kalau tidak sibuk menjelang puasa atau lebaran dia membuat lemang sendiri, pasalnya kalau ditempatnya tidak ada yang membuat lemang. “Kalau dibeli disini tidak ada yang menjual jadi kitas buat saja sendiri selagi masih ada bambu dan pisang kita buatkan. Saya belajar membuat lemang ini dari ibu,” jelasnya.
Tapi wanita masa kini kata Hartini, yang masih menjalankan tradisi ini kadang hanya saat Hari Raya Idul Fitri. Itupun yang dibawa tidak lagi penganan khas manjalang zaman dulu. Ada juga yang tak bawa apa-apa. Hanya silaturahmi saja.
Beragam alasannya. Ada yang menganggap sudah tak relevan dengan zaman. Ada juga karena tak sempat karena kesibukan. Kendala ekonomi, jarak dan sebagainya. Meski begitu yang masih menjalani tradisi ini sampai kini tetap ada. (wal)
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.