Bubur ini dulunya dibawa oleh para pedagang batu permata dari Martapura Kalimantan selatan hampir 70 tahun silam. Mereka sering berkumpul di sekitar masjid ini dan akhirnya betempat tinggal di kampung jayengan hingga sekarang.
Dinamakan bubur samin, ungkap Rosyidi, karena bubur tersebut dibuat dengan menggunakan campuran minyak samin sebagai bumbu penyedap.
"Bubur ini memiliki ciri dan rasa yang khas yakni penambahan bumbu rempah-rempah, minyak samin, daging," ujarnya, Senin (6/5/2019) sore.
"Sekitar 900 porsi dibagikan gratis pada masyarakat, sedangkan 200 porsi untuk buka puasa di masjid," imbuhnya.
