JIKA dilihat sepintas, bangunan berwarna putih yang terletak di Jalan Cut Meutia Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat itu tidak nampak seperti sebuah masjid. Bangunan beton dua lantai itu layaknya gedung perkantoran era pemerintah kolonial Belanda.
Ya, memang dulu saat masa penjajahan, masjid yang diberi nama Cut Meutia itu difungsikan sebagai kantor NV De Bouwpleg, atau kantornya para arsitek Belanda. Lantai dua gedung itu dulu digunakan sebagai kantor oleh Jenderal van Heuis.
Usai penjajah dari negeri kincir angin meninggalkan Tanah Air, gedung tersebut digunakan oleh tentara Jepang. Bangunan itu kemudian beralih fungsi menjadi Markas Besar Angkatan Laut Jepang pada masa Perang Dunia II.
Pasca-Indonesia merdeka, bangunan putih itu dijadikan sebagai kantor Urusan Perumahan hingga Kantor Urusan Agama pada 1964-1970 dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada zaman kepemimpinan Abdul Haris Nasution. Setelah MPRS pindah ke Senayan, gedung itu diberikan kepada anggkatan 66 Yonif Yos Sudarso untuk digunakan sebagai tempat beribadah. Namun, selama 17 tahun gedung itu hanya jadi tempat ibadah tanpa status masjid.
Melihat situasi itu, Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin langsung berinisiatif untuk meresmikan gedung tersebut menjadi masjid tingkat provinsi dengan surat keputusan bernomor SK 5184/1987 tertanggal 18 Agustus 1987.
"Karena sebelumnya bukan masjid, tapi memang tempat salat. Orang banyak salat di sini, tapi belum jadi masjid," kata salah satu anggota Yayasan Masjid Cut Meutia, M Deo Saputra saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Bangunan yang terletak di dekat Stasiun Gondangdia ini sekilas memang sama sekali tidak mirip masjid pada umumnya, karena tidak memiliki kubah dan menara.
Tampak depan dari masjid itu terlihat beberapa anak tangga untuk masuk ke dalam masjid. Usai menaiki anak tangga berjumlah 10 itu, pengunjung langsung dihadapkan oleh dua pintu berbahan dasar kayu warna cokelat.
Kedua pintu tersebut sebagai sebagai pembatas lokasi salat dan pelataran yang biasanya digunakan orang untuk menikmati semilir angin yang berembus dari kedua sisi. Banyak orang yang memanfaatkan tempat itu untuk beristirahat setelah menunaikan salat.
Saat masuk ke dalam masjid, jamaah akan diperlihatkan sebuah interior yang memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satunya, yakni tempat imam melaksanakan salat tidak diletakkan di tengah seperti lazimnya, melainkan berada di samping kiri shaf salat.

Tak hanya itu, posisi shaf para jamaah juga miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunannya tidak tepat mengarah kiblat. Sehingga, deretan karpet yang diperuntukkan untuk salat diletakkan miring.
"Ini dulu dari bangunan Belanda. Kenapa kiblatnya miring? Karena ini bukan dibuat untuk masjid," ujar Deo.