nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dianggap Ganggu Proses Belajar, Sekolah di Finlandia Anjurkan Siswa Muslim Tak Puasa

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 27 Mei 2019 21:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 27 18 2060989 dianggap-ganggu-proses-belajar-sekolah-di-finlandia-anjurkan-siswa-muslim-tak-puasa-f8tvLYAT6u.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

HELSINKI - Media Finlandia melaporkan bahwa puasa Ramadan menimbulkan efek yang mengganggu terhadap proses belajar siswa Muslim. Dampak dari efek tersebut diklaim tidak hanya mempengaruhi siswa yang berpuasa, tetapi juga siswa lainnya.

Laporan surat kabar Suomen Kuvalehti menyebutkan bahwa siswa-siswa Muslim lapar karena berpuasa mengalami kesulitan dalam mempertahankan konsentrasinya selama jam pelajaran mereka dan saat mempersiapkan ujian akhir pada akhir semester musim semi.

kecemasan yang dirasakan anak-anak yang berpuasa dengan cepat diteruskan ke teman sekelas mereka.

Pada awal Mei, pemerintah Kota Tampere mengumumkan bahwa Ramadan tidak akan diberi perlakukan khusus di sekolah-sekolah di kota itu. Katja Simonen, penyelenggara pendidikan bahasa dan budaya di sekolah menengah di Tampere menyamakan sekolah dengan kehidupan kerja, di mana orang perlu beradaptasi dengan aturan tertentu.

"Ini tentang keadaan anak-anak Muslim dan kesejahteraan semua siswa. Di sekolah-sekolah Finlandia, anak-anak harus makan," jelas Simonen. "Anak-anak kecil bisa berpuasa di rumah dan tidak bisa mengatasinya di sekolah tanpa makanan," tambahnya.

Menurut Simonen, anak-anak sekolah dasar tidak perlu merayakan Ramadan sama sekali, karena hanya orang dewasa yang sehat dalam komunitas Muslim yang berpuasa.

Namun, imbauan itu tidak sepenuhnya dipatuhi. Di sekolah Pohjois Hervanta saja, di mana 40 persen siswa sekolah adalah imigran, 60 siswa menjalankan puasa Ramadan, terlepas dari instruksi pemerintah kota.

"Kami tidak bisa memberi makan anak-anak secara paksa atau menyuntikkan nutrisi. Yang bisa kami lakukan adalah menyarankan orang tua untuk tidak memaksa anak untuk berpuasa," kata kepala sekolah Ilpo Nybacka sebagaimana dilansir Sputnik, Senin (27/5/2019).

Menurutnya, efek dari puasa Ramadan itu tampak secara nyata di sekolah.

"(Efek) Ramadan terlihat karena meningkatnya kecemasan dalam kehidupan sekolah sehari-hari", Nybacka menjelaskan.

Di Pohjois Hervanta, kurangnya konsentrasi telah mencapai tingkat tinggi sehingga orang tua diminta untuk segera menghentikan anak-anaknya berpuasa. Namun, masih sulit bagi beberapa orang tua untuk menerima instruksi sekolah.

"Mungkin sulit bagi mereka untuk memahami permintaan sekolah untuk berhenti berpuasa jika pada usia 9 tahun, anak itu sudah menjadi Muslim yang memakai jilbab sebagai simbol keimanan," jelas Katja Simonen.

Menurut kepala sekolah Nybacka, aspek yang paling bermasalah dari sudut pandang sekolah adalah siswa yang memamerkan kesalehan mereka sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan tambahan atau perlakuan berbeda.

"Agama dan puasa tidak dapat digunakan untuk mendapatkan status khusus. Religiusitas yang tulus adalah satu hal, namun keengganan untuk makan makanan yang 'tidak terasa enak', memiliki reses yang lebih lama atau membeli makanan dari kios adalah hal lain," ujarnya.

Menurutnya, harus ada aturan yang sama untuk semua siswa di sekolah-sekolah Finlandia.

Menurut Serikat Buruh Guru Finlandia, sekolah dan kotamadya memiliki pendekatan berbeda untuk Ramadan. Meski beberapa melarang puasa, yang lain mendukungnya.

"Sekolah memainkan peran besar dalam mengintegrasikan para migran Muslim ke dalam sistem pendidikan Finlandia. Cara untuk memastikan kebebasan beragama dapat dicari bersama, tetapi aturannya harus umum untuk semua. Anda tidak dapat mencari keuntungan, dengan bersembunyi di balik Ramadan atau salat," kata perwakilan serikat Päivi Lyhykäinen menjelaskan.

Perkiraan 2016 oleh Pusat Penelitian menunjukkan bahwa 2,7 persen populasi Finlandia yang berpenduduk 5,5 juta jiwa adalah Muslim.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini