nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Menikah di 'Malam Songo' Ramadan, Ribuan Pasangan Lepas Masa Lajang

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 03 Juni 2019 10:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 03 519 2063284 tradisi-menikah-di-malam-songo-ramadan-ribuan-pasangan-lepas-masa-lajang-yDouDSlqGS.jpg Ilustrasi pasangan menikah saat 'malam songo' Ramadan.

BOJONEGORO - Tradisi menikah di malam ganjil bulan Ramadan atau disebut ‘malam songo’ tampaknya masih menjadi favorit masyarakat di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Humas Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Laidia Maryati menyebut, 439 pernikahan dilakukan di malam songo Ramadan, terbanyak berada di Kecamatan Soko dengan total 60 pasangan.

"Paling banyak yang nikah di Kecamatan Soko dengan 60 pasangan, yang paling sedikit di Kecamatan Kerek hanya 4 pasangan," ujar Laidia.

Menurutnya, para calon pengantin ini sudah jauh-jauh hari mendaftar, bahkan beberapa di antaranya sudah mendaftar sebelum bulan Ramadan tiba.

"Karena menggelar pernikahan di rumah bukan di kantor KUA dan dilaksanakan di hari libur kerja, maka konsekuensinya mereka membayar biaya nikah Rp600 ribu," ujarnya.

Ilustrasi.

Tak hanya di Tuban, di Bojonegoro jumlah pasangan yang menikah di malam songo lebih banyak lagi. Setidaknya ada 642 pasangan menjalani pernikahan di momen tersebut.

Kecamatan di wilayah timur Bojonegoro jadi yang paling banyak. Di Kecamatan Baureno dan Kedungadem misalnya, terdapat 62 pasangan yang menikah.

Sementara Kecamatan Kanor terdapat 61 pasangan yang menikah, menempati urutan ketiga, disusul Kepohbaru dengan 60 pasangan.

"Memang ada 642 pasangan yang nikah malam 29 Ramadan. Terbanyak di wilayah timur seperti Kecamatan Baureno, Sumberrejo hingga Kedungadem," jelas Plt Kasi Bimbingan Masyarakat (Binmas) Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, Mukhlisin Mufa, saat dihubungi Okezone, Senin (3/6/2019).

Biasanya pernikahan dilakukan mulai 3 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri, terutama di malam-malam ganjil, mulai hari Sabtu hingga Senin (1/6/2019).

Bagi sebagian masyarakat, pernikahan malam songo Ramadan dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan baik. Selain karena malam-malam ganjil merupakan malam afdol di akhir Ramadan, juga dianggap sebagai ajang berkumpulnya sanak famili lantaran telah memasuki libur dan cuti Idul Fitri.

Salah seorang warga Baureno, Abdul Rohim mengaku sengaja menikahkan putranya di malam songo lantaran dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan memang menjadi pilihan dari sang anak sendiri.

"Memang kalau tradisi sini katanya sakral. Tapi terpenting itu pilihan anak sendiri, orang tua kan cuma bisa mengantarkan pilihan yang baik untuk anak," ucapnya. (qlh)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini