Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kepala Stasiun Malang Diprotes Anak Akibat Tak Mudik Lebaran

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 04 Juni 2019 |13:03 WIB
Kisah Kepala Stasiun Malang Diprotes Anak Akibat Tak Mudik Lebaran
Kepala Stasiun Malang Kota Baru, Radne Anyarso Tulad (foto: Avirista M/Okezone)
A
A
A

MALANG – Arus mudik jelang Lebaran 2019 di Stasiun Malang Kota Baru kian sibuk tapi sesosok pria berseragam PT Kereta Api Indonesia (KAI) tak henti – henti memantau kondisi stasiun mulai memantau penumpang hingga sesekali berkoordinasi dengan staf pegawai lainnya.

Dialah Radne Anyarso Tulad, Kepala Stasiun Malang Kota Baru. Kali ini pria kelahiran Solo ini kembali dipastikan tak akan berlebaran di kampung halaman lantaran sibuk melayani puluhan ribu pemudik yang berangkat dan tiba di Stasiun Malang Kota Baru.

Baca Juga: 5 Stasiun di Jatim "Diserbu" 25.645 Pemudik Kereta Api 

Stasiun Malang Kota Baru (foto: Avirista M/Okezone)

Radne menuturkan, sudah sejak 2008 lalu dirinya tak bisa menikmati suasana lebaran bersama keluarga di kampung halamannya.

“Sudah lama terakhir kali bisa berlebaran dengan keluarga itu tahun 2008 lalu,” ungkap Radne Anyarso saat ditemui Okezone di Stasiun Malang Kota Baru.

Sebagai kepala stasiun kereta api, Radne bertanggung jawab penuh terhadap kendali operasional stasiun, mulai dari pengaturan jadwal kereta api, pengaturan penumpang dan staf, hingga memastikan segala fasilitas sarana prasarana stasiun memadai.

“Memang untuk pelaksana hingga direksi tidak dapat libur saat mendekati lebaran. Jadi harus masuk itu mulai tanggal 26 Mei sampai 16 Juni, tidak boleh libur,” tegasnya.

Ia menceritakan awal mula tak bisa mudik ke kampung halaman membuat anak – anaknya bertanya – tanya dan protes akan kerja sang ayah.

“Ya ditanya sama anak saya saat masih TK awalnya, dia protes kok bapak enggak pulang, kok bapak enggak libur, padahal yang lain libur?” ceritanya menirukan sang anak.

Stasiun Malang Kota Baru (foto: Avirista M/Okezone)	 

Namun lambat laun sang anak dan keluarganya sudah menerima resiko pekerjaan yang dijalaninya. “Rasanya awal – awal memang berat, anak juga sering protes, tapi lama – lama akhirnya keluarga memahami dan tahu juga,” lanjutnya.

Meski demikian, karena mengemban tugas ini membuat sang anak tak mau meneruskan pekerjaan sang ayah, lantaran tak bisa menikmati lebaran bersama keluarga.

“Ya katanya anak saya tidak mau meneruskan pekerjaan bapaknya apalagi jadi kepala stasiun. Mungkin karena tidak bisa libur saat lebaran,” kisah pria 41 tahun ini sambil tersenyum.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement