nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump Tuduh Iran Serang Dua Kapal Minyak di Teluk Oman

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 15 Juni 2019 02:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 15 18 2066683 trump-tuduh-iran-serang-dua-kapal-minyak-di-teluk-oman-OO3qHnY8IQ.jpg Kapal tanker diserang di Teluk Oman. (Foto: ISNA/Reuters)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali menuduh Iran berada di balik serangan dua kapal minyak di Teluk Oman. Tuduhan itu pun langsung dibantah pihak Teheran.

Trump mengatakan video yang dikeluarkan Amerika Serikat membuatnya yakin bahwa Tehran yang patut disalahkan dalam serangan itu.

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa siap kapan saja kembali ke meja perundingan dengan Iran, walaupun ia mengatakan "tidak perlu terburu-buru".

Iran menyanggah terlibat dalam serangan itu dan menyalahkan elemen yang tidak disebutkan dengan maksud mengganggu hubungan Teheran dengan masyarakat internasional.

(Baca juga: Diduga Diserang, Dua Kapal Tanker Alami Ledakan di Teluk Oman)

Pihak militer Amerika Serikat mengedarkan video yang memperlihatkan tentara khusus Iran memindahkan ranjau yang tak meledak dari sisi kapal tanker yang rusak dalam serangan di Teluk Oman pada Kamis 13 Juni 2019.

Amerika juga mengedarkan gambar tanker Jepang yang memperlihatkan ranjau yang tidak meledak sebelum dipindahkan.

(Foto: BBC)

Sebuah kapal tanker Norwegia turut dilaporkan terkena hantaman tiga ledakan. Ledakan ini terjadi sebulan setelah empat kapal tanker rusak dalam sebuah serangan di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Amerika menyalahkan Iran untuk serangan tersebut, tetapi tidak memberi bukti.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat drastis sejak Presiden Donald Trump menjabat pada 2017. Ia mengabaikan kesepakatan nuklir yang dijembatani pemerintahan Barack Obama dan memperketat sanksi terhadap Iran.

Sejak serangan ini, harga minyak dunia melambung 4 persen. Demikian dilaporkan Bloomberg.

(Baca juga: Insiden Dua Kapal Minyak di Teluk Oman Sebulan Pasca-Serangan di Uni Emirat Arab)

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menuding Iran melakukan "serangan-serangan tanpa diprovokasi" terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman.

Pompeo mengatakan AS telah membuat tinjauan tentang tipe senjata yang digunakan dalam serangan berdasarkan laporan intelijen.

Sebelumnya, seorang pejabat senior Iran menegaskan kepada BBC bahwa "Iran tidak ada kaitannya" dengan rangkaian ledakan pada Kamis 13 Juni pagi.

"Seseorang berusaha menggoyang hubungan Iran dengan masyarakat internasional," tambahnya.

Apa yang Diketahui tentang Ledakan Ini?

Berdasarkan keterangan Amerika Serikat, angkatan laut mereka menerima panggilan darurat dari kapal Norwegia Front Altair pada pukul 06.12 waktu setempat (02.13 GMT) dan dari kapal Jepang Kokuka Courageous pukul 07.00, seiring beberapa ledakan yang terjadi.

Menurut mereka, kapal AS USS Bainbridge mengamati perahu angkatan laut Iran beroperasi di perairan itu beberapa jam sesudah ledakan, dan kemudian memindahkan ranjau yang tak meledak dari sisi kapal Kokuka Courageous.

Awak dari kedua kapal itu dievakuasi ke kapal terdekat. Baik Iran maupun Amerika mengedarkan gambar yang memperlihatkan awak kapal yang diselamatkan berada di kapal mereka.

Operator Kapal Kokuka Courageous, BSM Ship Management, megatakan awak kapal itu meninggalkan kapal sesudah melihat api dan ranjau yang tak meledak.

Kapal Kokuka Courageous berada sekira 30 kilometer dari Pantai Iran ketika mengirimkan panggilan darurat.

(Baca juga: Kapal Tanker Jepang Dihantam Dua "Obyek Terbang" dalam Serangan di Teluk Oman)

Apa yang Dikatakan Mike Pompeo?

"Kajian Amerika Serikat menyebutkan Republik Islam Iran bertanggung jawab atas serangan-serangan," kata Menlu AS Mike Pompeo dalam jumpa pers di Washington DC.

"Tinjauan ini berdasarkan laporan intelijen, senjata yang digunakan, taraf keahlian yang diperlukan untuk menjalankan operasi, serangan-serangan serupa yang dilakukan Iran pada pelayaran kapal, dan fakta bahwa tidak ada kelompok proksi yang beroperasi di area ini yang punya sumber daya dan kefasihan beraksi dengan kecanggihan sedemikian tinggi."

"Ini hanyalah insiden terkini dalam rangkaian serangan yang dilakukan Republik Islam Iran dan kaki tangannya melawan kepentingan Amerika dan sekutu-sekutunya."

"Secara keseluruhan, serangan-serangan tanpa diprovokasi ini memunculkan ancaman nyata terhadap keamanan dan perdamaian internasional, serangan terang-terangan terhadap kebebasan berlayar, dan peningkatan kampanye ketegangan oleh Iran yang tidak bisa diterima," kata Pompeo.

Sebuah sumber di dalam Pemerintah Inggris mengaku sepakat dengan penilaian AS, menurut koresponden BBC bidang diplomasi, James Landale.

Apa yang Menyebabkan Ledakan?

Otoritas Pelayaran Norwegia mengumumkan bahwa kapal yang dimiliki perusahaan Norwegia Front Altair telah "diserang". Terjadi tiga ledakan di kapal itu.

Wu I-fang, juru bicara perusahaan kilang minyak Taiwan CPC Corp yang menyewa Front Altair, mengatakan bahwa kapal itu mengangkut 75.000 ton nafta.

Ia menambahkan, kapal "diduga dihantam dengan torpedo" meskipun klaim itu belum dikukuhkan oleh pihak berwenang.

Laporan-laporan yang belum dikukuhkan menyebutkan penyebab ledakan mungkin adalah ranjau.

Perusahaan Frontline, selaku pemilik kapal, mengatakan kapal tersebut dilanda kebakaran. Namun, mereka membantah laporan media Iran bahwa kapal itu tenggelam.

Operator kapal berbendera Panama Kokuka Courageous, BSM Ship Management, mengatakan para ABK menyelamatkan diri dari kapal dan diselamatkan oleh kapal yang lewat.

Kokuka Courageous, menurut juru bicara operator kapal, mengangkut metanol dan tidak terancam tenggelam. Kapal berada sekira 30 km dari Fujairah, Uni Emirat Arab, dan sekira 15 km dari Iran.

Siapa yang Menyelamatkan ABK?

Media Pemerintah Iran melaporkan Iran menyelamatkan para ABK dan membawa mereka ke Pelabuhan Jask.

Kantor berita Iran IRIB mengunggah gambar yang diklaim sebagai kapal Front Altair dalam kondisi terbakar, tetapi foto itu belum berhasil diverifikasi secara independen.

Rekaman video tersebut diterbitkan kantor berita Iran, ISNA, dengan judul: Tayangan Awak Kapal yang Diselamatkan dari Kapal yang Rusak di Laut Oman.

Laporan tentang ledakan pertama kali dikeluarkan oleh Operasi Perdagangan Maritim Inggris yang terkait dengan angkatan laut negara itu, ketika mengeluarkan peringatan berisi seruan agar "sangat hati-hati".

Komando Armada V Amerika Serikat, yang bermarkas di Bahrain, mengatakan telah menerjunkan kapal USS Bainbridge untuk memberikan bantuan.

"Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan menerima dua panggilan darurat terpisah pada pukul 06.12 waktu setempat dan yang kedua pada pukul 07.00," kata juru bicara Josh Frey dalam keterangan tertulis pada Kamis 13 Juni.

Mengapa Masalah Itu Sensitif?

Teluk Oman terletak di ujung Selat Hormuz yang strategis, dan insiden ini akan memperburuk ketegangan di jalur pelayaran penting. Kapal-kapal yang mengangkut minyak bernilai jutaan dolar melawati selat itu.

Amerika Serikat mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat tempur B-52 ke kawasan pada awal Mei lalu sebagai tanggapan atas hal yang disebut sebagai rencana tak spesifik oleh kekuatan-kekuatan dukungan Iran untuk menyerang pasukan AS di kawasan.

Presiden Trump memberlakukan kebijakan keras terhadap Iran dan menuduhnya sebagai kekuatan yang mengganggu di Timur Tengah.

Namun, Iran menepis tuduhan itu dan sebaliknya menuduh AS menunjukkan tingkah laku agresif.

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan ranjau terhadap empat kapal di Perairan Uni Emirat Arab pada 12 Mei.

Uni Emirat Arab menyalahkan "aktor negara" atas serangan itu. AS menyebut sang aktornya adalah Iran, tetapi Iran membantahnya.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam peristiwa tersebut.

Di hadapan Dewan Keamanan PBB, dia mengatakan dunia tidak bisa mengalami "konfrontasi besar di kawasan Teluk".

Kemudian Uni Eropa menyerukan agar semua pihak "menahan diri semaksimal mungkin" terkait dengan ledakan di dua kapal minyak.

Sementara Paolo d'Amico, ketua Persatuan Pemilik Kapal Tanker, Intertanko, mengatakan dua kapal telah diserang, dan menyampaikan kekhawatiran tentang bahaya yang mungkin dialami kru yang lain.

"Jika wilayah perairan itu semakin tidak aman, pasok minyak ke semua negara Barat dapat terancam," kata Paolo d'Amico.

1 / 4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini