nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

10 Kecamatan di Gunungkidul Mulai Kekeringan

Antara, Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 08:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 16 510 2066950 10-kecamatan-di-gunungkidul-mulai-kekeringan-5pkZcJzalt.jpg Ilustrasi kekeringan (Dok Okezone)

GUNUNG KIDUL – Sebanyak 10 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dilanda kekeringan cukup parah, sehingga masyarakatnya berpotensi kesulitan mendapatkan air bersih pada musim kemarau ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edi Basuki di Gunungkidul, Minggu (16/6/2019), mengatakan berdasarkan rapat koordinasi antara pemangku kepentingan dan pemerintah kecamataan, 10 kecamatan mulai terdampak kekeringan. Kesepuluh kecamatan itu ialah Kecamatan Girisubo, Rongkop, Purwosari, Tepus, Ngawen, Ponjong, Semin, Patuk, Semanu, dan Paliyan.

"Dari 10 kecamatan terdampak kekeringan, kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Paliyan, Girisubo, dan Rongkop. Kami sudah mendistribusikan air bersih ke tiga kecamatan tersebut sejak 1 Juni lalu," ujarnya, mengutip Antaranews.

BPBD Gunungkidul sudah menyiapkan seluruh armada dan pendukungnya dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kekurangan air bersih di wilayah itu.

Selain itu, BPBD setempat telah menyosialisasikan mekanisme pengajuan permohonan bantuan air bersih ke pemerintah kecamatan hingga desa.

BPBD juga telah meminta pemerintah kecamatan hingga desa melakukan pemetaan wilayah masing-masing yang membutuhkan bantuan air bersih dan selanjutnya pemerintah kecamatan dan desa diminta segera mengajukan permohonan distribusi air bersih.

Kekeringan di Blora (Foto: Taufik Budi/iNews)

"Bantuan air bersih akan distribusikan apabila ada proposal permohonan yang masuk sehingga kalau tidak ada proposal, kami tidak melayani distribusi kepada masyarakat," katanya.

Edi menjelaskan hingga saat ini, jumlah wilayah yang mengajukan bantuan masih belum banyak.

Meski demikian, kata dia, seperti pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, pada saat mendekati puncak musim kemarau, jumlah permintaan akan terus bertambah.

"Kami memiliki banyak kecamatan-kecamatan yang menjadi langganan krisis air. Selain Girisubo, ada juga Tepus, Rongkop, Panggang, Purwosari, Patuk, hingga wilayah Semin,” kata dia.

Di sisi lain, wilayah-wilayah yang sulit dijangkau juga menjadi perhatian. Daerah seperti Gedangsari membutuhkan sopir dan kendaraan yang prima. Di wilayah lain yang sulit dijangkau, pihaknya juga akan bekerja sama dengan kecamatan setempat.

“Ada wilayah tertentu yang memang harus 'driver' dan kondisi kendaraannya harus bagus. Wilayah-wilayah yang Gedangsari dari sisi lokasinya membutuhkan sopir dan kendaraan yang harus lebih bagus. Itu yang kita prioritaskan,” katanya.

ilustrasi air bersih

Untuk bantuan air bersih pada tahun ini, BPBD mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta. Armada yang diterjunkan untuk penyaluran berjumlah tujuh truk pengangkut air.

"Kami siapkan tujuh, tapi yang beroperasi penuh hanya enam karena satu unit truk dijadikan armada cadangan,” katanya.


Baca Juga : Lebih dari 2 Juta Jiwa di Jawa Tengah Terancam Kekeringan

Untuk wilayah wisata, seperti kawasan pantai, Edi mengatakan jaringan PDAM sudah merata seperti di Pantai Baron dan sekitarnya.

"Selain itu, daerah lain juga memiliki sumber mata air yang dapat dijangkau untuk kegiatan pantai," katanya.


Baca Juga : Kekeringan Hantui 45 Desa di Ngawi

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini