Reynol membuat tato ini belajar tato otodidak, motif tato yang dibuat sempat bertanya sama kakek. “Almarhum kakek dulu ada tato dari Sipora,” ujarnya.
Saat dia mengukir tubuhnya dengan tato orang tua laki-laki memberikan support. Kini Reynol dan pencinta seni tato lainnya mendirikan komonitas Sitasimattaoi di didirkan awal tahun basecamp di Tuapeijat dan Padang.
Untuk peralatan tato bahannya didapat di Buttui, Siberut Selatan berupa kayu kelak baga, ada yang dicari di hutan sendiri. Sedangkan jarumnya memakai jarum tato modern bersama tintanya tapi kalau ada permintaan memakai jarum tradisional bisa dilakukan tapi menurut Reinol itu tidak bisa karena terlalu sakit.
Sedangkan kalau tinta tato tradisional itu memakai jelaga dicampur dengan air tubuh, namun karena bahanya susah dicari jadi memakai tinta modern. Untuk komonitas dalam satu naungan Sitasimanttaoi ada beberapa genre bagian lukisan galery dari kanvas, motif tato mentawai yang jelas mentawai.
“Kami tidak ada ketua semuanya saling memberikan masukan. Sedangkan respon dari pemerintah tidak ada hanya komunal saja,” ucapnya.
Joel Fianto Sikatsila (23) seorang mahasiswa di Stisipol Imam Bonjol Padang juga pencnta tato Mentawai yang ikut merajah tubuhnya, namun tato yang dia ukir di tubuhnhya itu tidak keseluruhan hanya bagian kirinya saja. Tato yang dibuatnya adalah matat sulu (matahari), kemudian punggunya berupa motif serepak (cadik) lalu dikaki.
“Tato saya ini sebelah terinspirasi dari suku Sikatsila (sebelah) dan itu dibuat secara manual memakai alat tradisional. Saya hanya ingin mencoba menyelamatkan budaya meski tidak sempurna,” ucapnya.
Joel terpikat soal tato ini semenjak SD kelas 1 saat itu dia sempat bertemua dengan almarhum nenek. “Pada saat itu kakek saya dan nenek ada tato beda dengan orang tua saya tidak ada tato Mentawai,” ujarnya.
Memang menato belum semahir temannya Reynol, Joel hanya bisa menato hal-hal yang kecil saja sementara motif yang besar belum bisa dilakukan. “Saya baru bisa menato motif serepak dibagian punggung tapi kalau bagian dada dan lainnya saya belum bisa,” ujarnya.
Selama merajah tubuh komonitas ini tidak ada menentukan patokan tarif hanya cukup untuk pengganti beli tinta.
“Disini tidak ada tarif atau patokan, kalau paling kecil itu Rp150 ribu, kalau keseluruhan dari depan khusus dada Rp500 ribu, belakang Rp300 ribu apalagi saat typing bisa jadi sampai Rp2 juta itu hanya pengganti tinta, kalau mengikuti aturan adat tidak bisa dibayar dengan uang harus benda-benda,” ucapnya.
Semenjak ada titi’ di tubuh Joel banyak mengejek dari kawan, lingkungan, sabajak (paman), tapi Joel tidak ciut nyali.
“Kita lihat dulu orangnya, kalau dilihat orang bisa diajak diskusi kita dikusi tapi kalau tidak kita biarkan saja,” pungkasnya.
Memang saat ini generasi muda sebaya Joel dan Reynol sudah tidak lagi memilik tato khas Mentawai, termasuk orang tua mereka, mereka hanya melihat tato generasi kakek dan nenek (teteu). Dalam buku ‘Aku dan Orang Sakuddei’ yang ditulis Reimar Schefold seorang antropolog dari Universitas Leiden Belanda menceritakan perjalananya di pedalaman pulau Siberut sekira tahun 1967 sampai 1969.
“Pejabat utama di pemerintah Muara Siberut bercerita dengan penuh rasa bangga bahwa langkah menuju kemajuan baru dilakukan dengan sebuah ordonansi di tahun-tahun pertama masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Dengan adanya itu maka kepercayaan Mentawai, budaya tato, menajamkan gigi depan, rambut panjang serta perhiasan pada laki-laki dilarang, termasuk juga tinggal di rumah komunal berukuran besar serta hal-hal lainnya yang mengandung budaya tradisional. Itu semuanya dianggap primitif dan terbelakang serta tak patut bagi sebuah bangsa modern,” tulisnya.
Setelah aturan-aturan itu dinyatakan dimana-mana, polisi kemudian memberikan waktu berpikir beberapa minggu lamanya kepada orang-orang Mentawai. “Kemudian mereka memasuki pemukiman-pemukiman tradisional, membakar semua benda-benda religius dan menghukum orang-orang yang tidak mau menyesuaikan diri dan belum memilih agama modern,” katanya dalam bukunya.
Kepala Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Agustinus Sagari membenarkan pemusnahan atribut budaya Mentawai mulai dari alat-alat kerei (tabib), sampai atribut budaya lainnya yang masih mengandung arat sabulungan (kepercayaan).
“Saya memang tidak melihat langsung saat itu tapi saya mendengar cerita dari orang tuaku saat itu saat itu di Siberut Hulu mereka membakar peralatan kerei, karena pemerintah saat itu menilai kebiasaan masyarakat menghambat pembangunan,” tuturnya pada Okezone.com.
Dengan kondisi itu pada saat itu pemerintah (terdiri dari kepala kampung sampai kepolisian) dan tokoh agama saat itu sepakat membakar atribut budaya Mentawai serta memindahkan mereka dari pemukiman lama ke tempat yang dekat dengan pelabuhan dan pantai.
“Akibat anggapan itu menjadi salah satu faktor budaya Mentawai mulai terkikis, saya sendiri tidak pakai tato yang ada tato orang tua bahkan orang tua (generasi kakek) sudah banyak yang meninggal dunia,” tutupnya.
Tato memang identik masyarakat Pulau Siberut, sebab di warga Sipora dan Pulau Pagai Utara dan Selatan menurutnya sejarahnya berasal dari Siberut.
(Khafid Mardiyansyah)