Mentan Amran Minta Satgas Pangan Lacak Mafia Ayam

Rabu 19 Juni 2019 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 19 1 2068197 mentan-amran-minta-satgas-pangan-lacak-mafia-ayam-SNJuewRHb1.jpg Foto: dok.Kementan

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama stakeholder peternakan ayam ras sepakat, dalam tujuh hari ke depan harga ayam hidup atau Live Bird (LB) yang saat ini rendah, sudah harus sesuai dengan harga acuan dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Hal ini disampaikan Amran dalam rapat koordinasi perunggasan pada Selasa (18/6/2019) di Ruang Rapat Utama I Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan ( Ditjen PKH) Kementan. Rapat tersebut juga dihadiri oleh jajaran Kementan, Kemendag, Intelkam Mabes Polri, serta para anggota asosiasi GPPU, Gopan, dan PPUN.

Terkait kondisi harga LB saat ini, Amran meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk dapat menelusuri pemicu rendahnya harga LB di farm gate yang masih jauh di bawah harga acuan, sehingga menimbulkan gejolak di peternak mandiri dan UMKM.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan Live Bird adalah Rp 18.000-Rp 20.000 per Kg. Namun di Jawa Tengah dan Jawa Timur harga LB ada dikisaran Rp8.000- 10.000, sedangkan harga rataan daging ayam di konsumen mencapai Rp35.000-Rp. 40.000.

Amran mengungkapkan untuk menyelesaikan rendahnya harga LB ini, Kementan telah mengundang para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi dan solusinya. Bahkan ia juga memintas satgas pangan melacak mafia yang mempermainkan harga ayam belakangan ini.

“Ada disparitas harga yang sangat tinggi antara harga dari peternak dan harga di tingkat konsumen. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah, sehingga kami minta Satgas Pangan melacak oknum yang bermain dalam situasi ini, dan kami minta beri sanksi yang seberat-beratnya," jelas Amran.

“Kita akan menambahkan anggota satgas pangan untuk mencari pihak-pihak yang bermain dalam situasi penurun harga LB karena telah meresahkan peternak” lanjutnya.

Amran kemudian menjelaskan harga LB seharusnya stabil. Produksi perunggasan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, sebagai contoh produksi daging ayam di Indonesia pada 2018 adalah 3,6 juta ton, dan rata-rata meningkat 3,74% setiap tahunnya. Adapun konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2018 adalah 3,1 juta ton, berarti masih ada surplus atau cadangan sebesar 305.127 ton.

Ini merupakan peluang untuk bisa ekspor ke Luar Negeri. Saat ini Kementan telah mengekspor komoditas pertanian termasuk di dalam komoditas peternakan seperti daging ayam olahan ke beberapa negara.

Amran menambahkan berdasarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2015 Pasal 3 a dan b fungsi Kementan adalah perumusan, pelaksanaan, dan penetapan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi padi, jagung, dan kedele, tebu, daging, dan pertanian lainnya, serta peningkatan nilai tambah, daya saing dan mutu, serta pemasaran.

“Namun terkait situasi rendahnya harga LB ini, Kementan ikut berkontribusi untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut,” ucap Amran.

Ia berharap situasi perunggasan saat ini bisa secepatnya diselesaikan, dan Kementan kembali akan mengundang berbagai pihak untuk rapat koordinasi terkait masalah unggas tersebut.

Bahkan untuk rapat berikutnya, Kementan akan menyertakan unsur KPK, Kejaksaan, Kepolisian, dan KPPU, sehingga nantinya diharapkan dapat menemukan faktor penyebab rendahnya harga LB di tingkat peternak agar dapat ditindak secara tegas sesuai hukum yang berlaku.

"Kementan telah berhasil memberantas mafia beras, jagung, dan bawang, ke depan mafia ayam juga kita sikat dan berantas,” tegas Amran.

Sementara itu pewakilan peternak ayam, Alvino manyambut baik dan mendukung rencana Amran untuk memberantas mafia ayam ini. "Kami berharap Menteri pertanian memberikan perlindungan agar peternak, rakyat (mandiri dan UMKM) mendapat tempat yang luas dalam budidaya ayam ras," tuturnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini