TUNIS – Kelompok teroris negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan dua bunuh diri yang meledak secara terpisah di ibu kota Tunisia, Tunis pada Kamis (27/6).
Kelompok itu mengatakan " dua serangan terhadap unsur-unsur keamanan Tunisia" adalah "pejuangnya", menurut SITE Intelligence Group yang berpusat di AS.
Serangan itu menghidupkan kembali kekhawatiran akan stabilitas Afrika Utara, yang dipandang sebagai kisah sukses demokrasi yang jarang terjadi dari pemberontakan Musim Semi Arab 2011.
Ledakan tersebut menewaskan seorang polisi dan melukai sedikitnya delapan orang termasuk beberapa warga sipil, kata kementerian dalam negeri Tunisia.

Seorang koresponden AFP melihat bagian-bagian tubuh berserakan di jalan di sekitar mobil polisi setelah serangan pertama, yang terjadi di Habib Bourguiba.
Kementerian dalam negeri mengatakan seorang polisi meninggal karena luka-lukanya setelah ledakan itu, sementara seorang polisi lainnya dan tiga warga sipil terluka.
"Itu adalah serangan bunuh diri," kata juru bicara kementerian dalam negeri Sofiene Zaag kepada AFP.
Setengah jam kemudian, serangan kedua menargetkan pangkalan penjaga nasional, polisi yudisial dan cabang anti-teror di Tunis.
"Seorang individu meledakkan dirinya di luar pintu belakang pangkalan itu, melukai empat personel keamanan,” kata Zaag, menambahkan bahwa kedua pembom itu adalah laki-laki.
Ambulans dan kendaraan layanan darurat dengan cepat tiba di lokasi ketika pasukan keamanan menjaga penonton di kejauhan.
Bagian tubuh tergeletak di trotoar dekat kendaraan polisi yang menjadi sasaran, termasuk kepala dan kaki pembom.
(Rachmat Fahzry)