Bagikan Posting Parodi Alquran dan Covid-19, Blogger Tunisia Divonis Penjara

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 15 Juli 2020 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 15 18 2246641 bagikan-posting-parodi-alquran-dan-covid-19-blogger-tunisia-divonis-penjara-g1M3seQXg7.jpg Emna Charqui. (Foto: Getty Images)

TUNIS – Seorang blogger di Tunisia dijatuhi hukuman enam bulan penjara setelah membagikan posting yang memparodikan Covid-19 yang ditulis dalam bentuk ayat dari Alquran.

Emna Charqui, 28, ditangkap pada Mei karena berbagi pesan di Facebook mendesak orang untuk mengikuti aturan kebersihan dalam gaya kitab suci Islam. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Charqui mengatakan bahwa dia tidak berniat melakukan provokasi, hanya menganggap bahwa posting tersebut lucu.

Dia dinyatakan bersalah di pengadilan Tunis karena "menghasut kebencian antar agama", namun dia belum ditahan karena berniat mengajukan banding.

Pada 2 Mei, Charqui membagikan sebuah posting di media sosial yang meniru sebuah ayat Alquran. Di dalamnya, teks menyerukan orang untuk mencuci tangan dan mengamati jarak sosial dalam menanggapi pandemi virus corona.

Diwartakan BBC, gambar itu awalnya didesain dan dibagikan oleh seorang ateis Aljazair yang tinggal di Prancis.

Posting Charqui muncul selama Bulan Ramadhan, di saat sebagian besar wilayah Tunisia masih dalam penguncian karena pandemi virus corona, dan segera memunculkan kegemparan. Beberapa pengguna media sosial menyebutnya menghina dan menyerukan Charqui, seorang ateis, untuk dihukum.

Beberapa hari kemudian dia diperiksa oleh polisi.

Amnesty International merilis pernyataan yang menyerukan agar pemerintah Tunisia menghentikan penuntutan.

"Penuntutan Emna adalah ilustrasi lain tentang bagaimana, terlepas dari kemajuan demokrasi Tunisia, pihak berwenang terus menggunakan hukum represif untuk merusak kebebasan berekspresi," kata Direktur Amnesty Afrika Utara Amna Guellali sebagaimana dilansir BBC.

Guellali mengatakan hak atas kebebasan berekspresi meluas ke apa yang "beberapa orang mungkin anggap mengejutkan atau menyinggung" dan menyerukan pemerintah Tunisia untuk mengamandemen hukum "sehingga sejalan dengan hak asasi manusia".

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini