SEMARANG – Diskusi seputar politik hingga jagoan calon presiden tidak hanya ramai di kalangan politikus. Warung-warung kopi, angkringan, sampai media sosial tak kalah heboh menjadi tempat yang seru untuk memperdebatkan tudingan pemilu curang.
Bukan barang tabu lagi untuk bicara politik, terlebih stasiun televisi juga kerap menyiarkan debat seru seputar politik secara langsung. Aksi adu argumentasi dan perang kata-kata menjadi tontonan menarik bagi warga, tentu sekaligus belajar menjadi politisi secara gratis, bahkan instan.
(Baca juga: Sah! MK Tolak Seluruh Gugatan Prabowo-Sandi)
Berbekal penggalan informasi itu, hampir semua kalangan seolah memasuki masa puber politik menjadi politikus dadakan. Tanpa canggung, diskusi di pos ronda maupun pangkalan ojek tidak luput dari materi politik. Sebagaimana di layar televisi, warga juga juga turut keukeuh mempertahankan argumentasi demi membela jagoannya.

"Sebetulnya kalau dilihat dari penggunaan istilah yang dikenal dalam ilmu politik, itu kan istilah awam. Ada puber politik, kemudian gagap politik, itu sebetulnya istilah-istilah yang memang berkembang di masyarakat dan itu memperkaya istilah-istilah dalam ilmu politik," ujar pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, Kamis 27 Juni 2019.
(Baca juga: Jokowi: Proses Pemilu Jadi Pembelajaran dan Pendewasaan Demokrasi Indonesia)
"Sebetulnya dalam konsep dasar ilmu politik, istilah itu tidak dikenal. Kalau kita bicara puber politik di mana orang intens melakukan proses penilaian, proses pengaktifan terhadap kegiatan-kegiatan politik, itu sebetulnya momentum. Kenapa momentum, karena di dalam politik itu eskalasi naik-turun," terangnya.