JAKARTA – Ketua DPP Partai Berkarya Vasco Ruseimy mengatakan tingginya antusiasme masyarakat dalam politik mesti diapresiasi, bukan malah dikebiri. Ia pun tidak setuju menyebut tingginya antusiasme publik sebagai puber politik.
"Tak perlu kita sebut kondisi ini sebagai puber politik. Saya lebih suka menyebutnya kondisi saat ini dengan sebutan melek politik," kata Vasco ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno itu berpendapat politik justru harus terus diperjuangkan dalam ranah negara demokrasi. Negara, lanjut Vasco, mesti dapat menjadi wadah membina rakyat untuk ikut berpolitik sesuai nilai-nilai luhur Pancasila.
"Dengan bergejolaknya minat masyarakat akan politik ini harusnya kita berikan apresiasi, bukannya malah dikebiri," tegas dia.

Sekadar diketahui, isilah puber politik mulai populer dalam beberapa tahun belakangan. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya ketertarikan seseorang terhadap isu-isu politik. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp hingga warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan puber politik sangat berbahaya bila diartikan secara negatif karena bisa saja terjadi pertentangan masyarakat. Misalnya saja adanya dikotomi "cebong" dan "kampret" serta lain sebagainya.
"Percuma bernegara jika rakyatnya tidak bersatu," imbuh Ujang.