Hal itu terlihat ketika Suparyanto memberi makan angsa di danau Jurug Solo Zoo. Suparyanto memanggil para angsa menggunakan suara unik. Kawanan angsa yang sebelumnya berenang di tengah danau menepi menuju tempat Suparyanto berada.
Setelah memberi makan para angsa, Suparyanto melanjutkan aktivitasnya memandikan buaya muara. Buaya muara yang sudah berumur satu tahun tersebut digendongnya tanpa rasa takut. Lucunya, ketika buaya tersebut mencoba memberontak, dia menegur buaya itu seperti seorang ayah menegur anaknya.
Suparyanto mengatakan, menjadi pawang harus memiliki keberanian untuk berinteraksi dengan para satwa tak terkecuali yang buas. Menurutnya, satwa tersebut bisa merasakan perlakuan manusia.
“Khusus buaya memang saya yang bertugas menjadi pawang. Rasa takut ada saat berada di luar kandang. Tapi setelah masuk kandang, rasa takut itu malah hilang. Saya awalnya hanya berani mendekat dengan jarak lima meter saja. Perlahan-lahan saya mendekati buaya itu, ternyata tidak apa-apa. Sekarang saya kalau membersihkan kandang buaya ya langsung turun bersih-bersih di dekat mereka,” bebernya.
Dia menambahkan, semua orang sebenarnya bisa menjadi pawang hewan. Seorang pawang hanya butuh keberanian dan kasih sayang. Sehingga, satwa juga akan memperlakukan pawang dengan baik.