Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Nyumarno meminta pihak Pertamina merealisasikan pemberian kompensasi kepada para nelayan dan petambak yang terdampak tumpahan minyak.
"Saya sudah ke Muaragembong kemarin. Setidaknya ada tiga desa yang terdampak tumpahan minyak mentah pertamina yakni Desa Pantai Bahagia, Pantai Bakti, dan Desa Pantai Sederhana," katanya.
Nyumarno, nelayan Muaragembong menyatakan tangkapan nelayan menurun drastis pascainsiden tersebut dari semula enam hingga tujuh kilogram ikan, udang, rajungan, dan cumi per hari menjadi hanya satu kilogram. Bibit ikan dan udang di tambak tepi laut juga banyak yang mati.
"Hal ini diduga disebabkan banyaknya ikan yang mati karena limbah tersebut. Di Desa Pantai Bahagia banyak benih ikan dan udang di tambak tepi laut yang ikut mati," katanya.
Nyumarno mendesak PT Pertamina segera memberikan ganti rugi kepada petani, nelayan, dan petambak di Kabupaten Bekasi juga meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi segera mendata mereka yang terdampak.
"Kompensasi juga harus diberikan kepada warga kami, jangan hanya warga Karawang saja. Masyarakat Kabupaten Bekasi jangan hanya dibayar karena turut membersihkan limbah pertamina saja namun harus diberikan ganti rugi juga," katanya.
Diketahui tumpahan minyak Pertamina Hulu Energi di blok Offshore North West Java yang berlokasi di Pantai Utara Jawa, Kabupaten Karawang mulai memasuki perairan pesisir utara Kabupaten Bekasi sejak Minggu 21 Juli lalu. Hingga kini Pertamina setiap harinya melakukan pembersihan minyak dengan merekrut tenaga kebersihan yang direkrut dari nelayan setempat.
(Salman Mardira)