Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Heroik Habib Muthahar Lindungi Bendera Merah Putih dari Agresi Belanda

Demon Fajri , Jurnalis-Rabu, 21 Agustus 2019 |07:11 WIB
Kisah Heroik Habib Muthahar Lindungi Bendera Merah Putih dari Agresi Belanda
Habib Muthahar (Foto: Ist)
A
A
A

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah merdeka tujuh dasawarsa lebih, (1945-2019). Ke 74 tahun, tepatnya. Di balik kemerdekaan itu tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang serta penyelamatan bendera pusaka sang Merah Putih.

Penyelamatan bendera pusaka itu terjadi ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia, di tawan Belanda, pada 19 Desember 1948.

Siapa yang menyelamatkan bendera pusaka kala itu? Pria itu mantan "Sopir" Presiden Soekarno. Habib Muthahar, namanya.

Selain berjuang dalam penyelamatan bendera pusaka Sang Merah Putih. Pria ini juga terlibat dalam ''pertempuran lima hari'' yang merupakan salah satu rangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang, pada masa transisi kekuasaan setelah Belanda, pada 15 Oktober 1945 hingga 20 Oktober 1945.

Dari data berbagai sumber yang diperoleh Okezone, pada agresi militer, Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta, dalam keadaan genting. Hal tersebut di tandai dengan pengepungan yang dilakukan Belanda. Di mana pada saat pusat pemerintah Indonesia hijrah ke Yogyakarta.

Habib Muthahar

Presiden Soekarno pun memanggil pria yang memiliki nama lengkap, Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar. Kala itu, pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916 ini menjadi ajudan Presiden Soekarno.

Saat itu pria komponis musik Indonesia kategori lagu kebangsaan dan anak-anak ini ditugaskan menyelamatkan bendera pusaka oleh Presiden Soekarno.

Penyelamatan bendera pusaka tersebut salah satu bagian aksi heroik dari sejarah Indonesia. Sehingga bendera pusaka Sang Merah putih tetap berkibar di tanah air Indonesia, hingga saat ini.

Perjuangan menyelamatkan bendera pusaka sang Merah Putih yang di jahit Fatmawati itu tidak mudah dilakukan oleh pencipta lagu Hymne Syukur ini.

Kala itu, pria yang tercatat sebagai tokoh yang ikut andil dalam lahirnya pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) ini sempat ''dihujani'' bom di daerah Yogyakarta. Bahkan, tentara Belanda memadati setiap jalan kota di daerah tersebut.

Namun, pria pencipta mars Hari Merdeka atau 17 Agustus 1945 ini tidak begitu saja menyerah. Dia berhasil menyelamatkan bendera pusaka Sang Merah Putih. caranya, benang jahitan yang menyatukan kedua kain bendera merah dan putih dilepaskan.

Dalam proses tersebut, pria yang meninggal dunia di Jakarta, 9 Juni 2004 dengan usia 87 tahun ini di bantu Ibu Perna Dinata. Kedua carik kain merah dan putih itu pun berhasil dipisahkan.

Habib Muthahar

Kemudian, kain merah dan putih tersebut diselipkan di dasar dua tas terpisah milik, pria yang sempat menimba ilmu di sekolah di Europese Lagere School (ELS) ini.

Pada saat agresi militer, Presiden Soekarno di tangkap Belanda dan diasingkan ke Parapat sebuah kota kecil di pinggir danau Toba, Sumatera Utara. Lalu, dipindahkan ke Muntok, Bangka.

Tidak hanya Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta ikut di tawan dan langsung di bawa ke Bangka. Sementara, Mutahar dan beberapa staf kepresidenan di tangkap dan di bawa ke Semarang, Jawa Tengah dengan pesawat Dakota.

Saat menjadi tahanan kota, Habib Muthahar melarikan diri dengan cara naik kapal laut menuju Jakarta. Sekira pertengahan Juni 1948, Muthahar mendapatkan perintah agar bendera pusaka dapat di bawa ke Bangka.

Muthahar kembali menyatukan kedua helai kain merah dan putih, dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter. Setelah itu, bendera pusaka diberikan ke Soedjono untuk diserahkan kepada Presiden Soekarno.

Pada 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, kembali ke Jogyakarta dari Bangka. Soekarno membawa bendera pusaka. Pada 17 Agustus 1949, bendera pusaka Sang Merah Putih dikibarkan kembali di halaman Istana Presiden Gedung Agung, Yogyakarta.

Sang Habib Pencipta Lagu Hari Merdeka

Pencipta lagu Hari Merdeka ini pada masa remajanya mengenyam bangku sekolah di sekolah Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs (MULO) setingkat SMP di Semarang. Lalu, dia melanjutkan sekolah di Algemeen Midelbare School (AMS) setara dengan SMA, dengan memilih jurusan Sastra Timur, khusus bahasa Melayu, di Jogyakarta.

Lulus dari sekolah itu, H. M. Husein Muthahar atau lebih biasa disebut Habib Muthahar ini kembali melanjutkan pendidikannya ke Universitas Gadjah Mada, jurusan Hukum merangkap Jurusan Sastra Timur.

Sosok Muthahar, tidak hanya dikenal dengan pencipta lagu ''Hari Mereka'' yang perkenalkan pada tahun 1946, penyelamat bendera pusaka sang Merah Putih.

Namun, pria yang diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia, pada Tahta Suci di Vatikan, pada 1969 hingga 1973 ini banyak menciptakan lagu yang mudah di hapal kalangan anak-anak sekolah.

Mulai dari lagu Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, Hymne Pramuka, Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang dan Mari Tepuk.

Tidak hanya itu, sosok pria ini merupakan seorang Habib atau keturunan langsung Muhammad SAW. Dia memiliki kematangan dalam hal umur, ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Bahkan, dalam perjalanan hidup-nya, H. Muthahar juga sempat menjadi pegawai Rikuyu Sokyoku atau Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara, Semarang.

Pada 9 Juni 2014, sosok pria yang telah banyak berjasa ini tutup usia akibat sakit tua. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement