nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengungsi Rohingya Menolak Dipulangkan ke Myanmar

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2019 16:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 23 18 2095744 pengungsi-rohingya-menolak-dipulangkan-ke-myanmar-pmJHNYkC44.jpg Kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. Foto/Reuters

COX's BAZAR – Ribuan pengungsi rohingya yang kini berada di Bangladesh menolak dipulangkan ke Myanmar karena takut dengan pemerintah setempat.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya lari dari Rakhine, Myanmar ke negara tetangga, Bangladesh, setelah tindakan keras militer Myanmar dilancarkan pada Agustus 2017.

Myanmar telah mengizinkan 3.450 orang untuk kembali, dari daftar lebih dari 22.000 yang disodorkan oleh Bangladesh dan Badan Pengungsi Dunia (UNHCR).

"Saya sangat sedih, sangat khawatir akan kembali ke Myanmar," kata Sayedul Haque (32) tahun mengutip Reuters, (Jumat (23/8/2019), yang menemukan namanya dalam daftar pemulangan tetapi menolak untuk pergi.

"Saya takut terhadap pemerintah Myanmar."

Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi Terhadap Panglima Tertinggi Myanmar Terkait Pembantaian Rohingya

Baca juga: Amnesty: Tentara Myanmar Lakukan Kejahatan Perang Baru di Rakhine

Foto/Reuters

PBB mengatakan tindakan keras Myanmar di wilayah Rakhine dilakukan dengan niat genosidal.

Pejabat Bangladesh mengatakan para pengungsi yang masuk dalam daftar pemulangan tidak berniat kembali ke Myanmar. Padahal pihaknya sudah menyiapkan bus dan truk untuk membawa mereka melintasi perbatasan.

"Ini adalah proses yang berkelanjutan," kata Mohammad Abul Kalam kepada Reuters.

“Kami sedang mewawancarai keluarga-keluarga lain yang diberikan izin oleh pemerintah Myanmar dan jika ada yang bersedia untuk kembali, kami akan mengembalikan mereka,” lanjutnya.

Min Thein, direktur kementerian kesejahteraan sosial Myanmar, mengatakan kepada Reuters bahwa para pejabat telah dikirim untuk menyambut warga Rohingya di pusat penerimaan di perbatasan.

Namun Direktur departemen administrasi umum negara bagian Rakhine, Kyaw Swar Tun, menolak untuk berkomentar.

Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada Agustus 2017 mengutuk tindakan keras militer Myanmar, termasuk pembunuhan massal dan pemerkosaan geng terhadap etnis muslim Rohingnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini