Dengan cepat kejadian ini tersebar ke Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sangat bernilai strategis, sebab hanya beberapa jam kemudian seluruh dunia mengetahui bahwa tidak benar provokasi Belanda bahwa Kemerdekaan RI cuma sebatas perjuangan di Jawa. Dunia lewat peristiwa ini, akhirnya tahu, Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.
Ben Wowor, tokoh perjuangan peristiwa heroik tersebut mengatakan bahwa ini merupakan kudeta, murni suatu perebutan kekuasaan yang diakui Tentara Sekutu, dan dilakukan dengan memakai otak, gunakan strategi jitu, sehingga berlangsung secara lancar tanpa chaos dan jauh dari aksi vandalisme.
"Dan hasilnya, bendera Merah Putih bisa berkibar di Sulawesi Utara, seluruh tahanan pro Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 berhasil dibebaskan, dan kami menahan serta mengasingkan para pejabat NICA ke Ternate,” ujar saksi hidup yang kini berusia 97 tahun itu.
Penulis buku Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 itu juga mengatakan bahwa mereka berhasil membentuk pemerintahan sipil dipimpin BW Lapian didampingi Ch Taulu selaku Pimpinan Ketentaraan, didampingi SD 'Mais' Wuisan. Waktu itu juga diangkat panglima-panglima teritorial, dipimpin Hulubalang Eng Johannes dari NTT, dengan Kepala Staf John Rahasia.
Satu hal penting, ini bukan semata perjuangan Orang Minahasa. Selain dari Nusa Tenggara Timur (NTT), di dalamnya ada pejuang dari Sangihe Talaud (Pontoh dkk), Arnold Mononutu (Maluku Utara), para raja Bolaang Mongondow, Danuphoyo dkk (Gorontalo).

Sejumlah laskar dari Sulawesi Selatan hingga Papua, Hidayat dkk (Sunda), juga beberapa anggota Kompi 7 pimpinan Mambik Runtukahu yang berasal dari tanah Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
"Yang saya harapkan agar sejarah tentang 14 Februari ini diketahui, jangan sampai anak cucu lebih tahu 14 Februari hanya merupakan hari valentine day. Padahal Bung Karno sendiri mengakui 14 Februari adalah Hari Patriotik, sehingga dinyatakannya sebagai Hari Sulawesi Utara. Ingat, ini sejarah heroik yang dahsyat. Jangan lupa itu sejarah, agar jangan digilas sejarah," pungkasnya.
B.W Lapian meninggal pada tanggal 5 April 1977 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pada tahun 1958, Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya dan pada tahun 1976 ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Pratama. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara pada tanggal 5 November 2015.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.