nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sambut Tahun Baru Islam, Keraton Kasunanan Solo Doa Bersama Usir "Setan Gundul"

Bramantyo, Jurnalis · Minggu 01 September 2019 02:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 01 512 2099125 sambut-tahun-baru-islam-keraton-kasunanan-solo-doa-bersama-usir-setan-gundul-Ydgjt6pyHl.jpg Foto: Okezone.com/Bramantyo

SOLO - Meski masih diwarnai konflik internal di dalam tubuh Keraton Kasunanan Surakarta, namun tak mengurangi kemeriahan pergantian tahun Hijriah tepat 1 Muharam atau biasa dikenal masyarakat Jawa, malam satu Suro di Kota Solo berlangsung meriah.

Pantauan Okezone, sejak konflik internal melanda keturunan trah Mataram terjadi, ritual tradisi Keraton Kasunanan yang biasa dilakukan bersama-sama, kini berbeda.

Seperti ritual malam satu Suro yang dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura Wawu 1953 kali ini. Peringatan malam satu Suro pun dilakukan dengan cara berbeda.

Baca Juga: Berebut Air Jamasan Pusaka Warnai Malam Satu Suro di Solo

Keturunan Pakubuwono XII yang berada di Lembaga Dewan Adat (LDA) lebih memilih memperingati malam satu Suro dengan cara menggelar pengajian di Masjid Agung.

Terlihat beberapa putri Pakubuwono XII seperti Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Galuh Kencono, GKR Retni Dumilah, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng).

Sedangkan dari Putri PB XIII terlihat GKR Timoer Rumbai KD, kumpul di masjid Agung. Sedangkan Tausiah sendiri diberikan ulama Keraton, KRT Setionodipuro.

Salah satu putri Raja, GKR Wandansari -biasa disapa Gusti Moeng- mengatakan, momen doa bersama yang digelar di masjid Agung ini, selain untuk mendoakan seluruh bangsa Indonesia, juga untuk berdoa mengusir setan 'gundul' yang saat ini menguasai Kraton Kasunanan. Sehingga, kondisi Kraton semakin memprihatinkan.

Keraton Kesunanan

"Yang penting itu tentram, yang penting itu damai. Karena beberapa hari ini perasaan tidak enak terus. Karena ada 'setan' gundul yang menguasai Kraton," papar Gusti Moeng usai doa bersama, Sabtu (32/8/2019) malam.

Pihaknya hanya bisa berharap agar tim yang diterjunkan Menkopolhukam Wiranto atas instruksi Presiden, bisa benar-benar mengakomodir seluruh Sentono (trah keturunan Kraton).

Pasalnya, ungkap Gusti Moeng, kondisi saat ini, Pakubuwono ke XIII sebagai penerus Raja di Kraton Kasunanan sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu.

"Saya berharap sekali timnya pak Wiranto ini, bisa benar-benar mengakomodir seluruh Sentono. Jadi kita harus dipertemukan benar. Karena ini sinuhun sudah benar-benar jadi alat untuk kepentingan sekelompok yang ingin menguasai Kraton,"terangnya.

Selain ada trah Kraton yang lebih memilih menggelar doa bersama, di pihak lain, seperti biasa, puncak malam satu Suro, ditandai dengan mengkirab sembilan ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini