nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Raden Fatah Disebut Yahudi, Warga Demak Meradang

Taufik Budi, Jurnalis · Rabu 04 September 2019 20:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 04 512 2100738 raden-fatah-disebut-yahudi-warga-demak-meradang-NY1XWJ08C2.jpg Raden Fatah Disebut Yahudi, Warga Demak Meradang (foto: iNews/Taufik Budi)

DEMAK – Masyarakat Demak meradang menyusul pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang menyebut Raden Fatah dan Sultan Trenggono merupakan orang Yahudi. Gelombang massa langsung bergerak menggelar unjuk rasa guna meminta Ridwan Saidi mempertanggungjawabkan omongannya.

Protes digelar oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Demak beserta segenap elemen masyarakat peduli budaya Demak. Mereka menggelar aksi di depan Masjid Agung Demak.

"Pernyataan Ridwan Saidi tentang Raden Fatah dan Sultan Trenggono yang menyebut sebagai orang Yahudi telah melukai masyarakat Demak. Kami minta dia segera memberikan klarifikasi dan permohonan maaf," ungkap koordinator aksi, Sugro, Rabu (4/9/2019).

Raden Fatah Disebut Yahudi, Warga Demak Meradang (foto: iNews/Taufik Budi)	 

Massa menilai, pernyataan Ridwan Saidi melenceng dari sejarah. Sembari membawa poster dan spanduk yang berisi permintaan Ridwan Saidi untuk melakukan klarifikasi, massa berjalan di kawasan Alun-Alun Demak.

Aksi sejumlah aktivis ini pun menarik perhatian warga dan peziarah yang berdatangan ke Masjid Agung Demak. Mereka turut mendukung aksi, agar sejarah Raja Kasultanan Demak itu kembali diluruskan, agar tak menyesatkan generasi muda.

"Demak ini kerajaan besar di masa lampau, untuk itu kita mesti menjaga sejarah tetap berada pada rel yang benar. Jangan sampai tak ada jejak literasinya,sebagai rujukan kita sebagai generasi penerus bangsa," ujar seorang warga, Kusfitria.

Perempuan berhijab ini pun meminta warga untuk lebih memahami sejarah, agar tak mudah dibelokkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Memperbanyak bacaan dan memperkaya literatur bisa menjadi upaya untuk menangkal pembelokan sejarah.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini