nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pangeran Saudi: Riyadh Dapat Hancurkan Iran dalam Delapan Jam

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 09 September 2019 18:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 09 18 2102545 pangeran-saudi-riyadh-dapat-hancurkan-iran-dalam-delapan-jam-by8qKbamGM.jpg Foto: Reuters.

SEORANG pangeran Arab Saudi mengklaim negaranya memiliki kekuatan militer yang dapat menghancurkan seteru regionalnya, Iran, dalam hitungan jam jika perang antara kedua negara pecah.

"Arab Saudi dapat menghancurkan Iran dalam delapan jam," kata Pangeran Abdullah bin Sultan bin Nasser al Saud melalui Twitter pada Kamis. Dia mem-posting kutipan dari sebuah wawancara video dengan seorang analis Saudi.

BACA JUGA: Pangeran Arab Saudi: Kita Tak Ingin Perang, Tapi Iran Perlu Ditindak Tegas

Awalnya ditayangkan di Channel 24 Arab Saudi pada 2016, video tersebut menunjukkan pesawat tempur Saudi F-15 dan jet F-4 Iran F-4, dan mengatakan sementara Arab Saudi memiliki jet dan persenjataan canggih, jet dan persenjataan Iran sudah tua dan ketinggalan jaman.

Dalam tweet yang dilansir Press TV, sang pangeran berkata, "Tentu saja, ini adalah segmen dua tahun, sebelum membeli dan mengembangkan sistem pertahanan udara, pasukan angkatan laut, darat, dan udara dengan rudal canggih."

"Apa yang tersembunyi lebih besar. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang dapat menghadapi persatuan kita, tekad kita, kebangkitan kita dan terima kasih Tuhan."

BACA JUGA: Sekilas Menengok Pertalian Hubungan Saudi-Iran

Di bawah pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz, Arab Saudi telah terlibat dalam sejumlah konflik militer dan mengambil sikap yang lebih konfrontatif terhadap Iran. Pada 2016, Riyadh memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran setelah demonstran yang marah menyerbu kedutaan besarnya di Teheran menyusul eksekusi terhadap seorang ulama Syiah berpengaruh di Arab Saudi.

Arab Saudi saat ini juga tengah terlibat dalam konflik di Yaman menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran. Konflik yang pecah pada 2015 tersebut telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah di salah satu negara termiskin di Timur Tengah itu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini