nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Unik Pria Rusia yang Lamar Kekasih dengan Todongan Pistol

Selasa 17 September 2019 14:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 17 18 2105899 kisah-unik-pria-rusia-yang-lamar-kekasih-dengan-todongan-pistol-biWHddbskj.jpg Foto: Spetsnaz Show.

Sergei harus merogoh kocek sebesar 30.000 rubel, atau sekitar Rp6,5 juta, untuk merealisasikan lamaran ekstremnya ini.

Sebelumnya, dia mempertimbangkan untuk mengajak teman-teman penegak hukumnya dan telah mendekati orang-orang dari Layanan Keamanan Federal untuk melakukan lamaran ini, namun mereka menolaknya - sesuatu yang membuat Sergei kini sedikit lega.

"Orang-orang dari tempat kerja bisa jadi sangat keterlaluan dan memecahkan sesuatu: mereka bisa menakutkan!"

Sergei Rodkin mempekerjakan para petugas keamanan profesional, namun enggan membuka latar belakang mereka.

Pencipta Spetsnaz Show, Sergei Rodkin, mengatakan tidak ada batas atas harga jika klien benar-benar ingin terbawa suasana.

Pengusaha berusia 36 tahun itu mengatakan ia biasa menyelenggarakan pertunjukan gratis di tahun 2010 untuk teman-teman.

"Segalanya menjadi semakin besar, dan setahun kemudian kami mulai melakukannya demi uang," katanya sebagaimana dikutip BBC Indonesia.

Lamaran ekstrem pertama muncul pada 2014. Pada 2015, beberapa waralaba Spetsnaz Show telah didirikan di seluruh Rusia. Sekarang ada 14 dari mereka - dan pesaing juga telah bermunculan.

Rasanya nyata

Di antara para aktor adalah mantan polisi dan personel mantan militer, untuk memberikan keaslian pertunjukan. Mereka bekerja paruh waktu karena belum ada permintaan yang cukup untuk itu menjadi pekerjaan penuh waktu mereka.

Sergei mengatakan kliennya selalu menginginkan rutinitas razia narkoba yang sama.

"Mereka tidak punya imajinasi! Mereka semua menginginkan operasi khusus, penangkapan bersenjata, obat-obatan," keluhnya.

Baru-baru ini, kasus yang sangat nyata melibatkan polisi yang menuduh mereka menemukan narkoba pada wartawan investigasi Rusia Ivan Golunov.

Pada saat itu, jurnalis tersebut bersikeras bahwa obat itu disisipkan oleh petugas yang terlibat. Dia segera dibebaskan setelah polisi membatalkan tuduhan terhadapnya, karena kurangnya bukti.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini