PENGKHIANATAN Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.
Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).
Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya. Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.
Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Anti Komunis Garis Keras

Ahmad Yani merupakan salah satu perwira TNI AD yang menonjol. Nama Ahmad Yani menjadi populer setelah berhasil menggempur PRRI di Sumatera Barat, pada tahun 1958.
Saat itu, Ahmad Yani berpangkat Kolonel ditunjuk menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus, untuk melawan pemberontakan tersebut.
Ketika sedang berada di daerah operasi, Ahmad Yani dipercaya memimpin Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Bahkan, ketika menjadi deputi, Ahmad Yani merupakan sosok yang sehaluan dengan Nasution: anti komunis garis keras.
Sosok Ahmad Yani adalah komandan TNI AD, yang lahir pada tanggal 19 Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah. Di mana Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani ini pernah mendapat julukan juru selamat dari rakyat Magelang, Jawa Tengah. Julukan itu diterima Ahmad Yani tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada masa usia puncak kariernya, Ahmad Yani dilantik Presiden Soekarno sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) atau Menteri/Panglima Angkatan Darat yang baru menggantikan Nasution, pada 23 Juni 1962.
Dari sumber yang diperoleh Okezone, alasan Soekarno memilih Ahmad Yani sebagai KSAD lantaran Ahmad Yani dinilai lebih lunak ketimbang Nasution dalam rangka mewujudkan konsep Nasakom.
Anggota Keluarga Wongsoredjo
Ahmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Beliau adalah anggota keluarga Wongsoredjo. Sebuah keluarga yang bekerja di sebuah pabrik gula milik Belanda.
Ahmad Yani dan keluarganya pindah ke Batavia (sekarang, Jakarta) pada 1927 karena sang ayah bekerja pada General Belanda.
Di Batavia, Ahmad Yani bekerja dan menempuh pendidikan di HIS Bogor yang lulus pada tahun 1935. Kemudian Ahmad Yani melanjutkan pendidikan ke MULO dan lulus pada tahun 1938.
Dari MULO, Ahmad Yani melanjutkan ke AMS Jakarta. Namun, Ahmad Yani hanya sampai kelas. Hal tersebut disebabkan adanya milisi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menjalani wajib militer.
Lalu, Pahlwan Revolusi ini mengikuti pendidikan topografi militer di Malang, Jawa Timur. Hanya saja pendalamannya dilakukan di Bogor, Jawa Barat berpangkat Sersan.
Di tahun 1942, Ahmad Yani bersama keluarganya pindah ke Jawa Tengah. Pada 1943, Ahmad Yani bergabung dan mengikuti Pendidikan Heiho di Magelang. Kemudian, bergabung dengan tentara Peta di Bogor, Jawa Barat.
Setelah TKR atau Tentara Keamanan Rakyat terbentuk, Achmad Yani ditunjuk sebagai pemimpin TKR Purwokerto.
Pada Desember 1955, Ahmad Yani di kirim ke Amerika Serikat untuk menjalani pendidikan di Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, USA.
Di mana Ahmad Yani menjalani pendidikan selama 9 bulan. Kemudian mengikuti pendidikan di Special Warfare Course, Inggris selama 2 bulan, pada 1956.
Ahmad Yani Tutup Usia
Sebelum pecah gerakan 1 Oktober 1965, Ahmad Yani mendapatkan laporan pegerakan PKI.
Dini hari 1 Oktober 1965, perwira tinggi militer kepercayaan presiden ini tewas tertembus peluru di kediamannya.
Tubuh sang panglima bersimbah darah, dengan balutan piyama itu diseret dan diangkut dengan truk untuk dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Jasad Ahmad Yani, bersama mayat 6 orang perwira TNI lainnya, ditemukan 2 hari kemudian. Ahmad Yani ditemukan di Kawasan Jakarta Timur. Lubang Buaya, persisnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.