nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bertaruh Nyawa Mempertahankan Kemerdekaan, Raden Karlan Kini Malah Jadi Pemulung

Syamsul Maarif, Jurnalis · Kamis 24 Oktober 2019 11:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 24 525 2121095 bertaruh-nyawa-mempertahankan-kemerdekaan-raden-karlan-kini-malah-jadi-pemulung-owig99K0YK.jpg Raden Karlan memperlihatkan foto masa lalunya (Okezone.com/Syamsul)

PANGANDARAN - Raden Karlan (81) warga Dusun atau Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mempertaruhkan nyawa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia beberapa tahun setelah diproklamasikan.

Namun, nasibnya kini memprihatinkan. Di usia senja, dia terpaksa jadi pemulung untuk memenuhi biaya hidup.

Raden Karlan masih terlihat segar dan tidak pernah mengeluh akan sakit seperti orang lanjut usia pada umumnya.

Raden Karlan masih sering bepergian menggunakan sepeda onthel tua miliknya, pulang-pergi dari Pangandaran ke Kota Tasikmalaya. Dia memungut sampah lalu memilah dan menjualnya. Uang hasil penjualan tersebut dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

"Sekarang saya tidak punya teman se umur yang dulu sepermainan kecil atau waktu remaja, semuanya sudah wafat," kata Raden Karlan saat dijumpai di rumahnya, Rabu 23 Oktober kemarin.

Raden Karlan lahir pada 14 Juni 1938 merupakan putra Raden Tisnawijaya, tokoh masyarakat di wilayah Parigi. Ia mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) dan lulus pada 24 Juli 1954.

Raden Karlan muda bergabung dalam Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR) pada 1956 hingga 1960, terlibat langsung mengusir pemberontak demi mempertahankan kemerdekaan.raden karlan

OKD merupakan wadah pemuda desa yang diperbantukan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tingkat desa, sedangkan OPR organisasi pemuda desa keterwakilan dari tiap OKD yang berkedudukan di tingkat kecamatan.

"Anggota OPR Kecamatan Parigi dulu berjumlah 40 orang yang merupakan OKD dari enam desa," kenang Raden Karlan.

Masa itu, Raden Karlan juga pernah mengikuti latihan perang selama tiga bulan. Setiap hari hingga malam terus berlatih di bawah pimpinan Letnan Iskandar dari Badan Organisasi Daerah Militer (BODM).

"Antara OKD atau OPR sering terjadi kontak senjata dengan pemberontak di daerah jalur Jalan Sier, Dusun Kemplung, Desa Karangbenda dan saya beberapa kali mengalami ancaman keselamatan nyawa waktu itu," terangnya.

Raden Karlan memaparkan, perjalanan hidupnya banyak mengalami peristiwa genting dan gawat di saat kondisi negara belum kondusif.

Dirinya mengaku, keterbatasan senjata atau peralatan perang tidak menjadi alasan baginya untuk menjadi seorang pengecut jika berhadapan dengan musuh.

Bahkan Raden Karlan memiliki ide cerdas dikala dirinya tidak memiliki senjata, namun masih tetap menjadi sosok pemberani.

"Senjata paling ampuh menaklukan musuh adalah PDTB yang artinya Pembelaan Diri Tak Bersenjata dengan cara mengantongi pasir dalam saku celana atau baju yang dipakai," paparnya.

Cara menggunakan pasir tersebut, saat dikepung musuh, pasir di lemparkan ke mata musuh hingga musuh tidak berdaya, cara tersebut merupakan jurus ampuh yang dilakukan Raden Karlan setiap bertemu dengan pemberontak negara.

Selain menjadi pejuang OKD, Raden Karlan juga memiliki talenta bermain musik, sejak muda dirinya sering menjadi pengisi acara-acara bergengsi melantuntan lagu keroncong.

"Belajar musik dan bernyanyi dari seorang warga Tionghoa bernama Yanpo, sampai saya bisa manggung dari satu tempat ke tempat lain," terangnya.

Masa kejayaan bermain musik Raden Karlan terglong lama sejak tahun 1956 hingga 1965. Biasanya lagu yang sering menjadi rekues penonton keroncong judul lagu mengapa kau menangis dan Bandung Selatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini