Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pria Disabilitas Disekap Orangtuanya Selama 9 Tahun di Toilet Rumah

Herman Amiruddin , Jurnalis-Kamis, 31 Oktober 2019 |12:41 WIB
Kisah Pria Disabilitas Disekap Orangtuanya Selama 9 Tahun di Toilet Rumah
Ilustrasi penyekapan (Foto : Shutterstock)
A
A
A

MAKASSAR – Mansyur, seorang anak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), kerap mendapat siksaan dari orang tuanya. Pemuda berusia 26 tahun itu juga disekap berhari-hari selama 9 tahun di toilet rumah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Andi Ilham Gazaling Sulsel mengatakan, Mansyur kini dalam penanganan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulsel.

"Hingga saat sekarang ini korban sudah didampingi psikolog untuk penanganan psikis dan emosionalnya. Penanganannya sudah kami tangani," kata Ilham Gazaling kepada Okezone, Kamis (17/10).

Mansyur terlihat aktif menjawab pertanyaan dari Ilham saat dikunjungi di rumah Aman, Makassar, meski jawabannya kurang jelas dan kerap menggunakan bahasa daerah.

Ilham meminta stakeholder terkait, khususnya DP3A kabupaten/kota untuk selalu melakukan pemantauan.

"Kalau ada kasus seperti itu atau kekerasan dalam rumah tangga, cepat ambil langkah penanganan," ujar Ilham.

Mansyur, seorang anak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), disekap selama 9 tahun oleh orangtuanya di WC. (Okezone.com/Herman Amiruddin)

Sementara itu, Kepala UPT P2TP2A Sulsel, Meisy, mengatakan saat ini kondisi Mansyur sudah membaik dan doyan makan. Itu lantaran saat dalam penanganan orangtuanya Mansyur hanya makan satu kali dalam sehari.

"Untuk sementara korban diinapkan di shelter atau rumah singgah yang bernama Rumah Aman di kawasan Antang. Kondisi fisiknya semakin membaik dan juga doyan makan," kata Meisy.

Setiap pagi Mansyur, kata Meisy, dibawa ke P2TP2A Sulsel untuk ditangani dan dibawa kembali ke shelter setelah jam pulang kantor.

Mansyur, seorang anak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), disekap selama 9 tahun oleh orangtuanya di WC. (Okezone.com/Herman Amiruddin)

"Sejauh ini kondisinya mulai membaik. Dia cukup ramah dan mudah berinteraksi dengan orang di sekitarnya," uckap Meisy.

Tim Psikolog Tissa Wulandari mengungkapkan Mansyur menderita disabilitas intelektual sehingga dibutuhkan pendamping khusus.

Daya tangkapnya, kata Tissa, kadang lamban, dan interaksi dengan lingkungan kurang baik, bahkan terkadang bisa bersikap agresif.

"Kita akan terus memantau perkembangan sampai kondisinya stabil," kata Tissa.

Saat ini, Mansyur mengaku tidak mau kembali ke rumah karena takut disiksa lagi oleh orangtua. Ia bahkan tidak mengakui ayah dan ibunya sebagai orangtua.

Ia juga bercerita kekerasan yang dialaminya ketika berada di Malaysia dan di Bulukumba.

"Tidak mau'ka kembali (tak ingin bertemu keluarga). Nanti disiksa baru tidak dikasih makan lagi," kata Mansyur.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement