TANGERANG SELATAN - Praktik kekerasan yang menimpa 9 siswa Madrasah Pembangunan (MP) UIN Jakarta berbuntut pelaporan pada polisi. Para pelakunya sementara ini berjumlah 5 orang yang merupakan alumni sekolah.
Penelusuran Okezone, pengungkapan praktik kekerasan itu mulanya diredam pihak MP UIN Jakarta dengan menawarkan mediasi kepada orang tua korban dan pelaku. Namun belakangan, beberapa orang tua tak puas dan menginginkan kekerasan diproses secara hukum.
Baca Juga: Trauma Dianiaya Gangster Vembazak di Tangsel, 1 Siswa MP UIN Pindah Sekolah

Setelah kasus kekerasan itu mencuat ke publik, pihak Madrasah Pembangunan UIN Jakarta memilih bungkam. Tak ada yang mau ditemui dan diminta penjelasan dari pihak sekolah. Padahal, sikap tertutup demikian menambah keresahan bagi orang tua siswa yang menitipkan anaknya belajar di sana.
"Kita sudah diarahkan, jadi kalau ada siapapun yang menanyakan soal proses ke depannya seperti apa bisa langsung ke Polsek Ciputat. Karena kita di sini nggak ada yang boleh berkomentar ke pihak luar," terang M Saleh, Kepala Sekuriti MP UIN Jakarta saat ditemui di lokasi, Rabu (6/11/2019).
Sekolah MP UIN jakarta sendiri masuk kategori salah satu lembaga pendidikan favorit. Gedungnya berdiri megah berdampingan dengan bangunan gedung milik kampus UIN Jakarta. Jika diamati dari pengawasan petugas di dalamnya, sekolah ini bisa dibilang memiliki sistem keamanan yang ketat.
"Kita ada beberapa CCTV di sini, tapi waktu kejadian di kantin sekolah itu kita baru dapat laporan saja jika ada yang berkelahi, karena di area kantin enggak ada CCTV. Tapi waktu kita panggil anak-anaknya (korban) nggak ada yang mengaku, bilangnya cuma bercanda," ucap M Saleh.
Para senior yang melakukan kekerasan itu tergabung dalam sebutan gangster "Vembazak". Mereka kini telah melanjutkan studi di berbagai sekolah, seperti SMA 1 Tangsel, SMA 9 Tangsel, SMA 87 Jakarta dan Madrasah Aliyah (MA) MP UIN.
Baca Juga: Gangster Berulah di Tangsel, 9 Siswa Dianiaya hingga Dipaksa Tenggak Miras

Mereka merekrut sejumlah siswa juniornya di MTs MP UIN, termasuk ke-9 korban. Karena tak tahan dengan perlakuan seniornya, para korban lantas berupaya menghindar dan tak mau lagi bergabung ke dalam geng Vembazak.
Hal itu lantas memicu kemarahan para pelaku. Pada tanggal 14 dan 15 Oktober 2019 lalu, mereka mengumpulkan korban di salah satu rumah serta di kantin sekolah MTs MP UIN. Lalu satu persatu dianiaya dengan dipukuli, diinjak-injak, dicekoki miras, hingga dipaksa melakukan tawuran sekolah.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.