JAKARTA - Partai Golkar bakal menggelar Musyawarah Nasional (Munas) pada tanggal 4-6 Desember. Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi berharap tak ada kegaduhan didalam Munas sesuai dengan pidato Presiden Jokowi saat HUT Golkar lalu.
“Bahwa Presiden dalam pidatonya menyampaikan bahwa Golkar merupakan partai tua dan partai besar yang keberadaannya memiliki pengaruh pada stabilitas politik nasional. Partai lain enggak ada kegaduhan dalam Munas karena ada figur sentral,” kata Dedi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/11/2019).
Dedi menyatakan, solusi untuk menghindari perpecahan dan menjaga keutuhan Partai Golkar adalah pemilihan ketua umum pada Munas dilakukan secara aklamaasi atau musyawarah mufakat.
“Saya berpendapat untuk menghindari kegaduhan Golkar harus mengedepankan asas musyawarah mufakat. Asas itu adalah memusyawarahkan pak Airlangga Hartarto untuk jadi Ketum Golkar 2019-2024,”tuturnya.

Dedi pun menepis ada anggapan yang menyebutkan menjelang Munas berlangsung situasi partai berlambang beringin itu mencekam. Padahal situasi di DPP sendiri berjalan seperti biasanya.
Ia menuturkan, Golkar ingin menjadikan tahun 2019 sebagai tahun konsolidai, bukan malah tahun kompetisi. Dia mengaku sebagai kader sudah terlalu lelah dengan kompetisi internal, padahal partai lain sedang mempersiapkan menyambut Pilkada serentak tahun 2020.
"Ini kan tahun konsolidasi karena kita lelah setiap munas dan ujungnya konflik. Kalau yang kalah votingnya tokoh besar kan bikin partai. Apalagi partai lain sudah ngomongin 2024. Kita juga harus mulai, apa yang harus dilakukan oleh Golkar," tukas Dedi.
(Khafid Mardiyansyah)