nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saat Kelas Pekerja Bersatu Melawan Elite Romawi: Menentang Undang-Undang Perpajakan yang Memberatkan

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Sabtu 23 November 2019 08:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 22 18 2133412 saat-kelas-pekerja-bersatu-melawan-elite-romawi-menentang-undang-undang-perpajakan-yang-memberatkan-7IUKHpBMf2.jpg Ilustrasi golongan Plebian Romawi. (Foto/Wikipedia Commons)

SAAT ZAMAN ROMA KUNO, ada struktur kelas yang ketat. Kelas atas masyarakat adalah para senator, ningrat, dan kelas berkuda, mereka adalah golongan elit kaya yang mampu hidup dalam kesenangan dan kemakmuran.

Sedangkan di bawah mereka ada bangsa Pleb. Dengan tidak adanya kelas menengah, ada perbedaan yang mencolok antara elite atas dan kaum rendahan. Kelas plebian, bagaimanapun, jumlah jauh melebihi jumlah elite, dan beberapa kali dalam sejarah Romawi, mereka bersatu untuk menggunakan kekuatan jumlah mereka. Kadang-kadang, mereka bahkan mogok, melawan elite kaya manja untuk berjuang sendiri. Peristiwa ini dikenal sebagai Secessions of the Plebs.

Melansir Histroia Daily, kelas plebeian adalah kelas pekerja dalam masyarakat Romawi kuno. Mereka satu langkah di atas budak pada hierarki sosial.

Pleb adalah warga negara Romawi yang bebas, tetapi mereka terjebak di bagian bawah tangga sosial ekonomi. Mereka adalah petani, buruh biasa, tukang roti, dan pembangun masyarakat. Mereka bekerja keras berjam-jam untuk mendapatkan cukup uang demi menghidupi keluarga mereka serta kelas elite, kepada siapa mereka membayar pajak.

Foto/Universal History

Paling tidak ada lima kali dalam sejarah Romawi, orang-orang plebeian melakukan perlawanan kepada golongan elite.

Salah satu peristiwa itu disebut "Secessio plebis," atau "pemisahan diri dari Pleb," peristiwa-peristiwa ini mirip dengan pemogokan buruh modern, membuat ekonomi terhenti dan mengganggu kehidupan nyaman kelas penguasa. Itu adalah cara paling efektif bagi kelas plebeian untuk mengguncang hierarki dan mendapat perhatian para ningrat.

Pada 494 Sebelum Masehi (SM), Pleb muak dengan undang-undang perpajakan senat yang meningkatkan utang kelas pekerja tanpa menawarkan layanan yang bermanfaat sebagai imbalan.

Lucius Sicinius Vellutus, seorang anggota parlemen kelas pekerja, menyarankan agar para pekerja bersatu untuk memprotes tindakan senat.

Dalam jumlah besar, para Pleb berjalan keluar kota dan berkumpul di Mons Sacer ("gunung suci") sementara Vellutus dan yang lainnya bernegosiasi dengan para ningrat. Pemogokan itu sukses, menghasilkan penghapusan banyak utang golongan Pleb dan pembentukan Tribune Pleb, posisi pemerintah pertama yang ditempati oleh anggota kelas Plebeian.

Pemerintah Romawi, dengan perwakilannya yang berkebangsaan Plebian, bekerja dengan cukup baik hingga tahun 449 SM.

Foto/Wikipedia Commons

Namun semua berubah saat para ningrat membunuh seorang anggota Tribune Plebs, seorang pria yang telah terang-terangan mengkritik penyalahgunaan kekuasaan para elite.

Pemicu lainnya terjadi ketika seorang pria bernama Appius Claudius Crassus memaksa seorang wanita Plebeian untuk menikah dengannya. Untuk menghindarkannya pernikahan paksa, ayah wanita itu sendiri menikamnya sampai mati.

Insiden itu memicu kerusuhan di seluruh kota, dan para anggota dewan menuntut agar beberapa anggota senat mengundurkan diri dari jabatan mereka. Ketika mereka menolak, para petani melakukan apa yang berhasil di masa lalu: Mereka mundur ke Gunung Suci, melumpuhkan ekonomi Romawi.

Mereka mendorong untuk dipulihkannya kembali Tribune dari Pleb, pengunduran diri tokoh-tokoh kunci, dan batasan masa jabatan kursi senat. Para ningrat setuju.

Kelas plebeian mogok lagi pada tahun 445 SM dan 342 SM. Dalam kedua kasus tersebut, para Pleb kembali memprotes bagaimana para ningrat di senat mendorong perwakilan Plebeian dan menyalahgunakan kekuasaan mereka.

Pemogokan terakhir dari kaum plebeian terjadi pada tahun 287 SM, dan dari semua yang terjadi, pemisahan dirilah yang membawa perubahan nyata dalam pemerintahan Romawi.

Pemogokan ini menghasilkan undang-undang Hortensian, yang disahkan oleh Quintus Hortensius setelah negosiasi untuk kembalinya pekerja kampungan.

Di bawah hukum Hortensia, para ningrat dan plebeian memiliki hak politik yang sama dan para ningrat tidak lagi diizinkan untuk menyetujui atau tidak menyetujui pekerjaan yang dilakukan oleh Tribune of Plebs.

Faktanya, sebagai hasil dari Fifth Secession, Majelis Plebeian dibentuk. Melalui Majelis Plebeian, kelas pekerja dapat mengesahkan hukum mereka sendiri, mengadili kasus yudisial mereka sendiri, dan memilih perwakilan mereka sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini