Tak hanya itu, kadang dirinya juga harus memutar otak bagaimana melaporkan perkembangan anak didiknya kepada orang tua. Terlebih pada orang tua yang tidak mau bekerja sama dalam mendidik anak-anak. Yenita juga sering kesulitan memberi pemahaman pada orang tua yang ingin anaknya menonjol hanya dibidang akademis.
"Tiap anak tumbuh kembangnya berbeda, ada yang cepat tanggap ada juga yang tidak. Kadang saya kesulitan membicarakan hal itu kepada orang tua. Apalagi kepada orang tua yang sulit bekerja sama, menganggap kalau sudah diajarkan di sekolah tidak perlu diajarkan lagi di rumah" tuturnya.
Sebagai guru TK, Yenita juga dihadapkan pada persoalan rumit lainnya. Dia dan guru TK lainnya harus pintar dalam memilih bahan ajar agar tidak dianggap melanggar aturan dari pemerintah. Hal tersebut menjadi dilema tersendiri bagi guru TK, sebab larangan untuk mengajarkan calistung pada anak dibawah usia 7 tahun diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Yenita dan guru TK lainnya paham bahwa hal tersebut memang tidak boleh dilakukan, bukan hanya soal larangan pemerintah tapi memang hal tersebut bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Namun, persoalan masuk SD membebani para pengajar TK. Banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswa harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung saat masuk SD. Bahkan, calon siswa juga akan dihadapkan pada tes calistung untuk lolos masuk sekolah tersebut.
"Anak-anak usia mereka itu memang seharusnya dibentuk motoriknya, sosialisasinya, dan juga pengendalian emosi. Tapi kita dituntut untuk mengajarkan calistung supaya lulus TK bisa masuk sekolah dasar idaman" jelasnya.
Menyiasati hal tersebut, Yenita dan guru lain di tempatnya mengajar akhirnya kompak untuk mengenalkan angka dan huruf lewat berbagai macam permainan. Walaupun yang diajarkan sangat dasar, namun setidaknya anak didiknya mengerti angka dan huruf saat lulus TK nanti.