Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Di Abad Ke-19, Wabah TBC Munculkan Ketakutan Warga Amerika Akan Vampir

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 07 Desember 2019 |08:01 WIB
Di Abad Ke-19, Wabah TBC Munculkan Ketakutan Warga Amerika Akan Vampir
Ilustrasi. (Foto: Reuters)
A
A
A

LEBIH dari 200 tahun setelah Pengadilan Penyihir Salem pada Abad ke-17, histeria lain melanda New England, Amerika Serikat (AS): ketakutan akan vampir.

Selama abad ke-19, penyebaran TBC telah merenggut banyak nyawa, menewaskan seluruh anggota keluarga di Rhode Island, Connecticut, Vermont dan bagian lain dari Timur Laut. Antara 1786, saat pejabat kesehatan pertama kali mulai mencatat angka kematian, dan 1800, penyakit ini mengklaim 2 persen dari populasi New England.

BACA JUGA: Kisah Kelam Pengadilan Penyihir Salem

Jumlah korban tewas tidak hanya menakutkan, tetapi juga cara yang mengerikan untuk mati. “Pengidap kehilangan berat badan, batuk darah, kulit mereka menjadi pucat dan kadang-kadang mati perlahan-lahan — hampir seolah-olah ada sesuatu yang 'menghisap kehidupan' dari mereka,” kata pensiunan arkeolog Negara Bagian Connecticut, Nicholas Bellantoni sebagaimana dilansir dari HIstory.

Warga New England tidak menyangkal kenyataan kondisi yang dialami pengidap TBC tersebut, tetapi, sebelum munculnya teori kuman (germ theory) dokter tidak dapat menjelaskan bagaimana penyakit menular tertentu menyebar dengan cepat. Penduduk desa yang putus asa percaya bahwa beberapa dari mereka yang meninggal karena penyakit memangsa anggota keluarga mereka yang masih hidup. Beberapa menggambarkan vampir New England sebagai mikroba atau "bakteri dengan taring."

Untuk mencegah serangan vampir yang sedang berlangsung dan penyebaran penyakit, warga yang panik menggali mayat korban TBC dan melakukan berbagai ritual, termasuk membakar organ dalam mereka.

Salah satu penggalian seperti itu terjadi pada Maret 1892 di pemakaman Chestnut Hill di Exeter, Rhode Island. Penduduk setempat membawa sekop dan pacul dan, bersama-sama, menggali mayat Mary Brown dan putrinya, Mary Olive yang berusia 20 tahun dan Mercy Lena yang berusia 19 tahun.

Masing-masing dari perempuan itu telah sakit-sakitan, semakin lemah dan akhirnya menyerah pada penyakit misterius itu. Dokter mengira mereka tahu penyebab kematiannya, tetapi warga yang khawatir memiliki teori lain.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement