Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengamen Tunanetra, Mereka yang Mencari Rezeki di Tengah Keterbatasan

Isty Maulidya , Jurnalis-Sabtu, 14 Desember 2019 |09:02 WIB
Pengamen Tunanetra, Mereka yang Mencari Rezeki di Tengah Keterbatasan
Tempat mangkal Iwang di Tangerang (Foto: Okezone/Isty)
A
A
A

TANGERANG - Instrumen lagu Sepanjang Jalan Kenangan mengalun dari sebuah radio kecil yang dibawanya. Instrumen tersebut mengiringinya bernyanyi, sesekali dia tersenyum menghayati lagi yang dinyanyikannya. Adalah Iwang (45) pengamen yang sering membawakan lagu-lagu lawas itu, kerap kali mengamen di keramaian kota Tangerang.

Kepada Okezone, dirinya mengaku berasal dari Jakarta Barat, setiap hari dirinya berkeliling di sekitar Pasar Anyar, Kota Tangerang. Terkadang, Iwang juga mengamen di pusat kuliner Pasar Lama Tangerang. Setiap hari Minggu, dia menyasar car free day yang digelar di berbagai titik Kota Tangerang dan Jakarta.

"Kalau pagi disitu, di Pasar Anyar, di Pasar Lama kadang-kadang saja. Kalau tidak capek ya sore lanjut kesini, kalau capek langsung pulang ke rumah naik kereta. Kalau Minggu ke car free day mana aja, kadang yg di Jakarta kadang yang disini," ujarnya.

Lipsus Pengamen Tunanetra (Foto: Okezone)

Iwang tak sendiri, dia juga ditemani sang istri, Naroh (40) sebagai penunjuk jalan. Iwang memegang pundak istrinya dan istrinya akan menuntunnya berjalan. Berdua, mereka bersama-sama mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi, kedua anaknya saat ini masih bersekolah dan membutuhkan biaya besar.

"Lebih baik ngamen daripada saya minta-minta, ngelamar kerja juga gak ada yang terima saya. Dari pada tidak ada pemasukan sama sekali, buat anak sekolah juga" jelasnya.

Iwang dulunya seorang buruh pabrik, tapi penyakit katarak mengambil penglihatannya. Sejak saat itu, Iwang tak lagi bisa mencari nafkah sebagaimana biasanya. Istrinya kemudian mengambil alih urusan nafkah. Naroh bekerja serabutan di sebuah konveksi rumahan, namun upah yang didapat tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Akhirnya, Iwang memberanikan diri untuk mengamen di Ibu Kota.

"Pernah katarak, terus gak ada biaya buat berobat. Gaji buruh kasar pas-pasan banget. Semenjak buta, saya gak bisa dapat kerjaan apa-apa" katanya.

Soal penghasilan, Iwang mengaku cukup untuk biaya sehari-hari dan menyekolahkan anaknya. penghasilannya saat ini sudah lebih baik dibanding saat istrinya hanya bekerja serabutan.

"Paling kecil 150, kalau lagi rame kadang bisa sampe 300 ribu. Biasanya di car free day yang rame" jelasnya lagi.

Iwang hanya berharap, anaknya tidak malu mempunyai orang tua tuna netra dan hanya menjadi pengamen, ia ingin anak-anaknya tumbuh lebih baik darinya. Mendapat pendidikan yang cukup, dan pekerjaan yang layak.

Tak hanya itu, dia juga berharap lapangan pekerjaan untuk disabilitas seperti dirinya diperbanyak. Menurutnya, disabilitas juga punya kelebihan masing-masing dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

"Ya mudah-mudahan sih ada kerjaan buat orang-orang kayak saya ini. Kalau untuk orang buta mungkin susah kali ya, tapi ya semoga ada yang bisa kasih pekerjaan yang cocok buat orang kayak saya" tutupnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement