SIAPA pernah menyangka jika di balik nama besar Soekarno sang pendiri bangsa dan Presiden Pertama RI, terdapat sosok ibu dan bapak yang memiliki keteguhan luar biasa mempertahankan cinta sejati hingga harus berurusan ke pengadilan? Bahkan sang ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang pada masa kecil lazim disapa Srimben harus membayar denda ke pengadilan 25 ringgit.
Memang perjalanan cinta kedua orangtua Soekarno tak semulus ragam kisah sinetron dan dongeng dengan cerita indahnya. Alasan latar belakang keluarga, status, suku dan agama jadi dasar pertimbangan penolakan hubungan orang tua dan keluarga Ida Ayu dengan sang kekasihnya Raden Soekemi Sosrodihardjo yang hanyalah seorang guru beragam islam dan berasal dari Jawa.
Sebuah situasi yang wajar ketika itu, karena Ida Ayu Nyoman Rai yang lahir pada 1881 itu adalah anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran yang kala itu adalah orang terpandang daerahnya. Bahkan Srimben semasa remaja di Banjar Bale Agung Singaraja, memiliki aktivitas utama membersihkan pura saban waktu pagi dan petang. Aktivitas ini sejalan dengan nama kecil pemberian orangtuanya Srimben yang artinya limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Kerasnya penolakan orang tua Srimben dan keluarganya atas hubungannya dengan kekasihnya itu, tak menyurut semangat dan upayanya untuk terus membina cintanya dengan sang kekasih. Kedua sejoli itupun harus memilih kawin lari dengan menginap di sebuah rumah seorang kepala polisi, teman dekat Raden Soekemi Sosrodihardjo.
Pernikahan pun dilangsungkan pada 1897 setelah sebelumnya pengadilan mengadili kedua pasangan itu untuk memastikan tak ada paksaan atas perkawinan yang sejati itu, meskipun Srimben harus membayar denda 25 Ringgit.
Usai menikah, orangtua Soekarno lalu hijrah ke Surabaya. Keduanya terus menjalani bahtera kehidupan rumah tangganya di kota itu hingga pada 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Soekarno di sebuah rumah di sekitar pemakaman Belanda, Kampung Pandean III, Surabaya.

Nyoman Rai Srimben dikenal memiliki akhlak baik dan taat agama. Di dalam dirinya mengalir keras bekal spiritual Hindu yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Bekal spiritiual itulah lalu diturunkan ke anak-anaknya termasuk Soekarno.
Waktu terus berjalan, suatu ketika Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya pindah ke kota kecil di kecamatan Ploso (Jombang). Di daerah itu Soekarno selalu mendapat sakit. Soekarno pun akhirnya diputuskan untuk pindah ke Tulung Agung agar mendapatkan perawatan dari mertuanya (nenek Soekarno).
Nyoman Rai Srimben kembali mengasuh Soekarno saat orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di sinilah saudari perempuan Soekarno (anak pertama) mereka, Raden Soekarmini (juga dikenal sebagai Bu Wardoyo) menikah. Kakak Soekarno itu lahir pada tanggal 29 Maret 1898.
Nyoman Rai Srimben memang sosok setia dan bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anaknya. Kala Soekarno dewasa, Nyoman Rai Srimben memasukan anaknya bersekolah di Surabaya. Meskipun dia harus mengikuti sang suami pindah ke Blitar, Soekarno tetap terus bersekolah di Surabaya. Nyoman Rai Srimben lalu menitipkan Soekaro ke rumah HOS Cokroaminoto.
Kesetiaannya kepada suaminya tak pernah luntur meskipun di Blitar dia harus tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut. Kondisi itu tak pernah ditolaknya. Nyoman Rai Srimben terus melaksanakan tugasnya itu sepenuh hati tanpa bersungut sedikit pun.