nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Heboh Keraton Palsu, Sultan Pajang: Cara Lestarikan Budaya Jangan Keliru

Sabtu 18 Januari 2020 22:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 18 512 2154840 heboh-keraton-palsu-sultan-pajang-cara-lestarikan-budaya-jangan-keliru-YuYICOS3KG.JPG Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatulloh IV (Foto: KRjogja/Andjar HW)

SOLO - Heboh kemunculan keraton baru seperti Keraton Agung Sejagad (KAS) dan Sunda Empire menunjukkan adanya keinginan positif sebagian masyarakat akan nguri-nguri atau melestarikan budaya masa lalu.

Namun melestarikan budaya sejatinya dilakukan dengan cara yang yang benar. Bukan malah membuat kerajaan baru, namun melestarikan budaya yang sudah ada sebagai peninggalan leluhur.

"Seperti di Keraton Pajang yang lokasinya di bekas situs Keraton Pajang di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Sebagai raja atau sultan tidak mudah. Setidaknya, ada trah, dinasti, keturunan, kekerabatan," ucap Pengageng Kasultanan Keraton Pajang, Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV di Kraton Pajang, menukil dari laman KRjogja, Sabtu (18/1/2020).

Ia menjelaskan, Yayasan Kasultanan Keraton Pajang, selain resmi dari Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. Selain dasar hukum positif negara ada keabsahan notaris, keputusan Menkumham bernomor AHU-2190. AHA 01.04 tahun 2011 yang ditandatangani Syafruddin di Jakarta pada 27 April 2011. Menjadikan legalitas Kasultanan Keraton Pajang.

"Juga hukum adat juga menjadi pedoman, Ki Ageng Turus yang masih sepupu dengan Kebo Kenanga, sang ayah dari Joko Tingkir, merupakan leluhur Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV," tuturnya.

Keraton Agung Sejagat

Di situs bekas Keraton Pajang yang luasnya sekitar 4.000 meter persegi di Makamhaji, Kartasura, tidak hanya terdapat sejumlah bangunan seperti pendapa bekas kraton Pajang, museum serta gedhong pusaka, kayu sempalan gethek (perahu) yang pernah dinaiki Joko Tingkir dan tonggak kayu Donoloyo bekas peninggalan semasa Sultan Hadiwidjaya bertahta.

"Sejumlah bangunan bekas Keraton Pajang itu merupakan warisan budaya benda (tangible cultural heritage). Selain itu terdapat warisan adat istiadat termasuk tarian pusaka dan prosesi adat jumenengan (intangible cultural heritage) yang mendapat perlindungan sebagai cagar budaya," jelasnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini