nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saksi Ahli Ungkap Kejanggalan Persidangan Pelajar SMA Bunuh Begal

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 22:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 20 519 2155732 saksi-ahli-ungkap-kejanggalan-persidangan-pelajar-sma-bunuh-begal-1xUc2DJaJO.jpg Pakar Hukum Pidana Anak Lucky Indrawati Ungkap Kejanggalan Jalannya Persidangan Pelajar SMA Bunuh Begal di PN Kepanjen (foto: Okezone/Avirista M)

MALANG - Seorang saksi ahli mengemukakan sejumlah kejanggalan dalam proses persidangan pelajar SMA berinisial ZA yang membunuh begal di Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pakar Hukum Pidana Anak Lucky Indrawati menyebut, bila pada proses peradilan ZA tidak menggunakan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Baca Juga: Hukuman Seumur Hidup untuk Pelajar Pembunuh Begal Dirasa Janggal 

"Persidangannya aneh, kok tidak memakai SPPA UU Nomor 11 tahun 2012 mengenai Sistem Peradilan Pidana Anak. Tapi sidangnya kok berlangsung tertutup, mestinya kan tadi terbuka di dakwaannya. Siapa yang menentukan tertutup?" ujar dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya ini.

"Dari tiga pasal yang disangkakan, Pasal 340 dan 338 itu satu jenis, pembunuhan tujuan. Tidak pas-lah tujuannya, apalagi ini kok aneh," tambahnya.

Suasana persidangan pelajar bunuh begal di Pengadilan Negeri Kepanjen, Senin (20/1/2020). (fFoto : Okezone.com/Avirista Midaada)	 

Lucky menjelaskan ada proses persidangan yang dianggapnya juga janggal, dimana adanya pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan berencana dan Pasal 338 tentang pembunuhan.

Namun menurutnya, tindakan yang dilakukan ZA bukanlah merencanakan pembunuhan melainkan melakukan pembelaan karena ZA dan teman perempuannya diancam akan dibegal dan diperkosa.

"Posisi ZA ketika teman wanitanya itu diancam otomatis jiwanya menjadi berontak dan tidak stabil, labil jiwanya karena ada ancaman tadi akhirnya dilakukan pembunuhan dan itu dibolehkan dalam pasal 49 ayat 2 KUHP sebagai alasan penghapus pidana," jelas Lucky Indrawati.

Terkait kemungkinan jika ZA melarikan diri dari kawanan begal tersebut, saksi ahli berujar bahwa jika ZA membiarkan teman perempuannya maka bisa jadi ancaman diperkosa akan tampak.

"Laki - laki mana pun di Indonesia yang normal ketika ada ancaman itu pasti melakukan hal yang sama. Pasti harga dirinya dan jiwanya akan tergoncang, akan melawan. Kegoncangan ini muncul, tidak mungkin jika tidak ada ancaman atau serangan," bebernya.

Sebagai informasi, pelajar berinisial ZA menjalani sidang yang keempat secara tertutup Senin 20 Januari 2020 dengan agenda menghadirkan sejumlah saksi.

Pelajar ZA, pada Minggu malam 9 September 2019 keluar bersama pacarnya di kebun tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dihadang oleh sekelompok kawanan pembegal.

Dua orang mencoba merampas sepeda motornya dan handphone ZA. Tak cukup disana saja, pelaku juga berusaha memperkosa pacar ZA yang berinisial V.

Baca Juga: Ditanya Kasus Pelajar SMA Bunuh Begal, Begini Komentar Jaksa Agung 

Namun korban ZA memberikan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambilnya dari dalam jok sepeda motor miliknya hingga menewaskan seorang begal bernama Misnan. Alhasil dua pelaku begal lainnya pun melarikan diri melihat rekannya.

Sehari setelahnya polisi mengamankan ZA dan menetapkan tersangka atas dugaan penganiyaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun lantaran masih berstatus pelajar ZA tak di penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini