MANADO - Masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) terkenal sebagai pengkonsumsi daging ekstrem. Banyak rumah makan di Sulut yang menjual daging ular dan kelelawar.
Tepatnya di Kota Tomohon, terdapat pasar ekstrem yang menjual daging anjing, kucing, babi, kelelawar, babi hutan, tikus ekor putih, ular piton, kus-kus, bahkan daging hewan yang terancam punah pun ada di sana, seperti yaki atau monyet hitam Sulawesi.
Dari penelusuran Okezone ke salah satu rumah makan yang menjual daging kelelawar, sang penjual mengaku tidak terpengaruh dengan adanya penyebaran virus korona yang kini tengah ramai diperbincangkan lantaran ada isu virus tersebut sudah masuk ke Indonesia dari negeri asalnya China.
"Daging kelelawar sudah lama di konsumsi oleh masyarakat, tapi daging yang kami jual tidak ada berpenyakit seperti virus korona, kalau toh ada virus, pastilah sudah banyak masyarakat sulawesi utara yang berhenti makan daging kelelawar," ujar Seny Warouw, Jumat (24/1/2020).

Seny yang mengaku sudah 7 tahun berjualan daging kelelawar mengaku pelanggannya tidak ada yang terpengaruh dengan virus korona. Bahkan rumah makannya tetap ramai setiap hari seperti biasa.
"Setiap hari selalu ramai. Daging kelelawar didapat dari sulawesi utara sendiri. Lagian daging kelelawar berkhasiat menyembuhan penyakit asma," kata Seny.
Baca Juga : Virus Korona Wuhan, China Bangun Rumah Sakit Berkapasitas Seribu Kasur
Vena Kaseger salah seorang pelanggan mengaku sudah lama mengkonsumsi daging kelelawar yang menurutnya sangat berkhasiat menyembuhkan penyakit asma. Dirinya mengaku daging tersebut menjadi makana wajib setiap hari.