nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pulang dari China, Mahasiswa Aceh Dinyatakan Steril dari Virus Korona

Windy Phagta, Jurnalis · Selasa 28 Januari 2020 15:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 28 340 2159547 pulang-dari-china-mahasiswa-aceh-dinyatakan-steril-dari-virus-korona-o7QIuQ1gT7.jpg Tiba dari China, Mahasiswa Bernama M Sahuddin Steril dari Virus Korona Setelah Diperiksa di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh (foto: Okezone/Windy P)

BANDA ACEH - Delapan mahasiswa asal Aceh yang menempuh pendidikan di China memilih kembali ke Indonesia karena merebaknya virus korona. Sesuai jadwal penerbangan, mereka akan tiba di Tanah Air pada Selasa (28/1/2020).

Salah seorang mahasiswa bernama Muhammad Sahuddin, tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, sekira pukul 11.15 WIB. Sesampainya di bandara, Sahuddin yang didampingi beberapa petugas, langsung dibawa ke ruangan pemeriksaan kesehatan yang berada di lantai dua.

Hasil pemeriksaan petugas, suhu tubuhnya dalam kondisi stabil dan terhindar dari wabah virus korona. Pemeriksaan kesehatannya tidak memakan waktu lama karena Sahuddin juga telah menjalani pemeriksaan serupa saat transit di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.

Dalam pemeriksaan itu, dirinya dipastikan dalam kondisi sehat dan steril dari virus korona.

Baca Juga: Indonesia Dipastikan Masih Aman dari Penyebaran Virus Korona 

Sahuddin merupakan mahasiswa asal Sigli, Pidie, Aceh, yang sedang mengambil gelar doktor (s3) ilmu Pendidikan Luar Biasa, di Nanjing Normal University, Provinsi Jiangsu, China. Dia sudah berada selama tiga tahun di sana.

“Sedih karena teman seperjuangan, 12 orang masih di Wuhan, mereka belum boleh pulang. Dan itu memang sulit, bukan tidak mampu tapi tidak ada kapasitas untuk melakukan hal itu,” ujar Sahuddin kepada media.

Suasana di Bandara ZhengZhuo - China di Tengah Virus Korona (foto: Istimewa)	 

Sahuddin memutuskan untuk pulang dengan biaya sendiri karena suasana di daerahnya kuliah sudah sepi. Saat ia datang ke masjid untuk salat jumat, masjid dalam keadaan tertutup dan tidak melayani jamaah.

“Kondisi itu awalnya yang membuat saya panik. Sehingga langsung berfikir dan mencari solusi sendiri. Karena pemerintah di Nanjing, telah mengeluarkan instruksi dan berbagai macam aturan untuk warganya,” kisah Sahuddin.

Kondisi terkini di Nanjing, menurut informasi Sahuddin, sebanyak tiga orang dikabarkan telah terjangkit virus korona. Kemudian setelah keluar dari sana, jumlah warga yang terjangkit bertambah jadi 18 orang.

“Hari ini data informasi yang saya akses sudah masuk sekitar 70-an. Progresnya dari awal tidak ada yang menurun tapi terus naik,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Aceh Hanif mengatakan kondisi kesehatan Sahuddin setelah diperiksa dalam keadaan sehat walafiat. Untuk sementara tidak ada tanda-tanda terjangkit virus korona.

“Akan tetapi tetap kami waspadai karena dia pulang dari daerah yang terjangkit. Dalam prosedur apabila seseorang begitu diperiksa tidak ada tanda-tanda sakit, itu hanya masuk dalam daftar orang yang diawasi, artinya bukan dirawat,” ujar Hanif usai melakukan pemesiksaan dan menyemput Sahuddin di Bandara Sultan Iskandar Muda.

“Setelah kami periksa tidak ada kelainan yang dideritanya sehingga dibolehkan untuk pulang dalam pengawasan. Artinya selama 28 hari ini tetap diawasi terus dan komunikasi sehingga jika ada tanda kurang sehat seperti demás segera dilaporkan,” tambahnya.

Suasana di Bandara ZhengZhuo - China di Tengah Virus Korona (foto: Istimewa)	 

Sementara Rizki Maulida mahasiswa asal Aceh yang berhasil dihubungi Okezone menuturkan, dirinya juga memilih untuk pulang ke Aceh. Menurutnya Pemerintah Kota Kaifeng, Henan, China, telah mengisolasi kota tersebut karena penyebaran virus korona terus meningkat dari awalnya 5 kasus naik drastis jadi 128 kasus.

“Walaupun berisiko saya memilih untuk pulang, saya juga telah meminta izin pihak kampus dan berkoordinasi dengan KBRI. Menunggu dievakuasi juga belum ada kepastian, jadi saya memutuskan untuk segera pulang,” kata Rizki.

Menurut informasi Rizki di Henan ada sekitar empat mahasiswa asal Indonesia lainnya yang masih bertahan di sana dan terus melakukan komunikasi dengan keluarga untuk mendapatkan tiket.

“Untuk mendapatkan tiket susah karena pemesanan yang lagi ramai, terus harganya (tiket) juga lagi mahal, belum lagi angkutan menuju bandara. Saya memesan taksi dari asrama ke bandara itu harganya sekitar Rp1 jutaan,” tambahnya.

Baca Juga: Suami Pulang ke Indonesia, Mahasiswi Asal Klaten Tertahan di Wuhan 

Rencanya Rizki akan pulang ke Aceh melalui penerbangan Zhengzo - Shanghai, Shanghai - Kuala Lumpur, Kuala Lumpur - Aceh, Rizki, direncakan sampai di Aceh pada Rabu 29 Januari, sekira pukul 10.45 WIB.

“Semoga penerbangan saya lancar, dan bisa sampai di Aceh dengan selamat,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini