Melihat Lebih Dekat Ritual Tatung "Cuci Jalan" H-1 Cap Go Meh 2020

Ade Putra, Okezone · Jum'at 07 Februari 2020 21:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 07 340 2165183 melihat-lebih-dekat-ritual-tatung-cuci-jalan-h-1-cap-go-meh-2020-u39ORVrGGM.jpg Perayaan Cap Go Meh di Pontianak (Foto: Okezone/Ade)

JUMAT, 7 Februari 2020, sejumlah ruas jalan protokol di Kota Singkawang, Kalimantan Barat dipadati rombongan para tatung yang sedang melaksanakan ritual cuci jalan.

Cuci jalan bukan berarti mencuci jalan menggunakan air pada umumnya. Tapi, para tatung atau orang yang telah dirasuki roh dewa atau leluhur ini, melewati jalan-jalan protokol sambil membaca mantra dan mudra.

Ritual ini sudah menjadi tradisi bagi warga Tionghoa sehari menjelang perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari Sabtu 8 Februari 2020. Sebelum melaksanakan ritual cuci jalan, para tatung mendatangi kelenteng tua atau Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat Kota Singkawang untuk memanjatkan doa.

Pagi Jumat kemarin, suara loku (gendang), gong dan lonceng terdengar dari kejauhan dan menggiring para tatung memasuki vihara yang berada di Jalan Sejahtera, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat itu.

Satu per satu tatung memasuki vihara untuk berdoa dan memohon petunjuk kepada dewa atau leluhur agar diberi keselamatan. Para tatung ini dari beragam kalangan. Baik tua, muda, pria dan wanita. Mereka mengenakan pakaian khas dari yayasan masing-masing.

Cap Go Meh

Baca Juga: Cap Go Meh di Jakarta, Ini Rangkaian Festival yang Dihelat Pemprov DKI

Para kru yang mendampingi pun turut masuk ke area vihara sambil membawa tandu, dupa, kertas, pedang, golok, tongkat, lonceng serta alat lainnya yang digunakan sebagai pelengkap atraksi tatung.

Sesaat sebelum memasuk vihara yang berjarak sekitar 200 meter dari Masjid Raya Singkawang ini, mereka melakukan atraksi. Ratusan orang yang berada di sekitar vihara pun tak mau ketinggalan menyaksikan dan mengabadikan momen itu dengan handphone maupun kamera mereka.

Bau kemenyan dan dupa pun tak dapat membuat penonton menjauh. Mereka tetap antusias menyaksikan prosesi ini.

Para tatung yang melakukan ritual sakral di Vihara Tri Dharma Bumi Raya ini tidak dibatasi. Tatung yang berasal dari daerah mana pun boleh melakukan ritual di vihara ini. Namun, tidak juga dilarang untuk melakukan ritual serupa di vihara lain di sekitar lokasi asal peserta tatung.

Sesaat sebelum berdoa Vihara Tri Dharma Bumi Raya ini, terlihat tubuh tatung bergetar. Kedua tangannya juga tak berhenti berayun dengan jari jemari yang bergetar. Ada beberapa tatung lainnya melakukan atraksi di atas tandu. Sambil menginjak besi tajam yang melekat di tandu itu. Juga melompat-lompat.

Bak menginjak besi tumpul. Kaki tatung yang beraksi ini tak tergores sedikit pun. Hanya terlihat bekas membentuk di kulit kakinya. Juga ada tatung lainnya yang memegang golok dan menggosok-gosokkan ke seluruh tubuh mereka. Ke tangan, kaki, leher, lidah, wajah, telinga, hidung serta organ tubuh lainny. Sama juga, mereka tak sedikit mengalami luka.

Warga Tionghoa meyakini ritual tatung cuci jalan ini sebagai petanda untuk membersihkan kota dari para roh jahat menjelang Cap Go Meh dan menjaga keselamatan warga dari gangguan roh-roh jahat.

"Kegiatan bersih (cuci) jalan ini dilaksanakan pada H min satu jelang pelaksanaan Cap Go Meh di Singkawang," ujar Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie.

Cap Go Meh

Dijelaskannya, ada ratusan tatung yang menggelar ritual cuci jalan atau penolak bala ini. Jalan-jalan yang dilewati tatung dalam pelaksanaan cuci jalan dan parade tatung ini dimulai dari Jalan Diponegoro, selanjutnya menuju Jalan Budi Utomo ke Jalan Setia Budi lalu ke Jalan Sejahtera, Jalan Niaga dan finish di Jalan Stasiun.

Satu diantara peserta dalam rombongan tatung mengatakan, ritual ini wajib dilakukan sebagai penolak bala sehari sebelum Cap Go Meh dilaksanakan. Cuci jalan juga dipercaya dapat memberikan keselamatan dan mendatangkan berkah bagi masyarakat.

"Cuci jalan ini agar acara nanti semuanya berjalan dengan mulus, lancar, tidak ada halangan lainnya," tuturnya.

Ritual ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun wisatawan yang berada di sekitar viraha tempat berdoa maupun di pinggir jalan yang akan dilewati para tatung. Tak satu pun yang melepaskan moment ini untuk direkam. Karena, tak semua daerah terdapat atraksi yang seru sedikit mendebarkan ini.

Salah satunya warga asal Kubu Raya, Dewi Yulian Putri. Dikatakannya, dia tak pernah bosan menyaksikan secara langsung atraksi tatung. Hampir tiap tahun dia dan keluarganya menyaksikan even nasional ini.

"Saya bersama keluarga sudah tiga hari di Singkawang. Kami hanya ingin menyaksikan Festival Cap Go Meh. Karena atraksi tatung ini sangat luar biasa dan jarang ada di tempat lain," ujarnya.

naga

Senada dengan Dewi, Yanto warga asal Banjarmasin ini juga jauh-jauh datang hanya untuk menyaksikan Festival Cap Go Meh Singkawang. Dia mengatakan, tidak pernah bosan. "Sama ini, saya sudah tiga kali menyaksikan Festival Cap Go Meh di Singkawang. Tidak pernah bosan," ucapnya.

Warga lainnya dari Medan, Adhe juga mengatakan Festival Cap Go Meh di Singkawang sangat bagus dan menarik. "Hampir tiap tahun saya datang ke sini untuk menyaksikan Festival Cap Go Meh," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini