Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Mantan Pengikut ISIS: Kondisi Suriah Sangat Berbeda dengan Propaganda di Medsos

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Selasa, 11 Februari 2020 |15:28 WIB
Kisah Mantan Pengikut ISIS: Kondisi Suriah Sangat Berbeda dengan Propaganda di Medsos
Febri Ramdhani sempat tertipu propaganda ISIS (Foto: Okezone/Fakhrizal)
A
A
A

JAKARTA - Mantan pengikut Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Febri Ramdani, mengenang bagaimana perjalanannya ke Suriah dan hampir satu tahun menetap di Negeri Syam itu.

Ia mengatakan, apa yang terjadi di Suriah berbeda dengan yang disampaikan oleh kelompok teroris tersebut lewat media sosial (medsos).

Febri mengaku datang ke Suriah lantaran ingin menyusul sebanyak 21 keluarganya yang telah terlebih dahulu berhijrah ke sana.

"Di situ saya sudah melihat banyak fakta-fakta yang tidak sesuai dengan apa yang dipropagandakan di media ISIS," kata Febri dalam peluncuran buku '300 Hari di Bumi Syam: Catatan Perjalanan Mantan Pengikuti ISIS' di UI Salemba, Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Febri menerangkan, pada awalnya dirinya menolak saat diajak oleh keluarga yang akan berhijrah ke Suriah. Kala itu, pada 2015 silam, keluarganya dengan rombongan besar berangkat ke Suriah lantaran ingin hidup di negara yang menerapkan hukum Islam seperti yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Jokowi Tolak Pemulangan Eks ISIS, DPR: Saat Bergabung Mereka Tak Lagi WNI

Febri menolak diajak saat itu. Dia pun sempat indekos karena hampir seluruh keluarga intinya sudah berangkat ke Suriah.

Kesendiriannya pun akhirnya membuat ia mencari informasi soal ISIS di website milik kelompok teroris yang dipimpin Abu Bakr Al Baghdadi itu. Alhasil, dua tahun kemudian dirinya memutuskan berangkat ke Suriah dengan niat untuk bertemu keluarga dan belajar di sana.

"Saya lihat memang propagandanya bagus, pendidikan hingga kesehatan gratis. Bahkan Abu bakr Al Baghdadi bilang kita boleh dibebaskan jadi apa saja. Nggak harus berperang," kenangnya.

Febri bertolak ke Suriah dengan diurus oleh kerabatnya. Ia tak merinci siapa kerabat yang mengurus dirinya hingga bisa sampai ke kota yang dikuasai ISIS tersebut.

Febri hanya mengenang bagaimana dirinya menggunakan visa turis selama lima hari berada di Istambul, Turki untuk selanjutnya berangkat ke perbatasan Turki-Suriah.

Saat itu dia hanya menunggu pihak ISIS untuk bertemu di salah satu titik di Kota Istanbul dengan sebuah bus besar yang diperkirakan berkapasitas 50 orang yang kemudian membawa mereka ke perbatasan Turki-Suriah lewat jalan setapak.

"Saya turun dan semua data-data tentang Indonesia dikasih semua. Dan penuh perjuangan, kita disuruh lari-lari dan akhirnya kita bisa masuk ke Suriah," kenang dia.

Perjalanan Febri ke Suriah pun dilanjutkan ke Kota Ar-Raqqah. Setibanya di kota bagian utara Suriah itu, dirinya langsung sadar bahwa informasi yang selama ini didapatnya bagian dari propaganda ISIS.

Pasalnya, kota tersebut telah hancur lebur akibat perang. Di kota ini juga Febri bertemu dengan salah satu warga negara Indonesia (WNI) hingga akhirnya mempertemukan dirinya dengan keluarga.

Baca Juga: ISIS Itu Negara atau Bukan?

"Akhirnya saya dikasih ketemu keluarga saya dan alhamdulillah ibu saya masih hidup. Dan memang ada beberapa yang sudah meninggal," kata dia.

Febri hanya diberikan dua hari untuk bertemu keluarganya. Dia harus mengukuti wajib militer yang sebenarnya tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Betapa tidak, ia hanya ingin menimbah ilmu di Suriah sebagaimana informasi yang didapatkannya bahwa kuliah dan biaya hidup gratis di sana.

Mendengar cerita Febri itu, keluarganya langsung marah kepadanya lantaran memutuskan untuk ikut berangkat ke Suriah. Padahal, keluarganya telah berencana akan kembali ke Tanah Air.

"Mereka (keluarga) menjelaskan semua keburukannya ISIS. Dan mereka berusaha keluar dari wilayah itu dan kembali ke Indonesia," bebernya.

Pada akhirnya Febri dan keluarganya pun memutuskan kembali ke Indonesia dengan segala resiko yang akan dihadapi mereka. Kemudian, mereka memutuskan untuk menyerahkan diri ke pasukan SDF Kurdi dan dipenjara selama dua bulan.

Di penjara itu, Febri dan keluarganya kerap diinterograsi dan menyatakan bahwa berhijrah ke Suriah bukan untuk berperang, melainkan untuk belajar dan ingin hidup berdasarkan syariat Islam seperti zaman Rasullah SAW.

"Dan pada akhirnya saya diserahkan ke pemerintah Indonesia," tandasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement